
Keterangan foto: Dani Munggoro (berdiri berbicara di depan peserta), selaku Pelatih Ecosystem Builder Training, memberi pengantar dan arahan pelatihan, di Yogyakarta, 21 November 2025.
Yogyakarta — Di tengah tantangan sosial dan ekologis yang kian kompleks dan saling terkait, pendekatan kolaboratif lintas aktor menjadi semakin penting. Kesadaran inilah yang mengemuka dalam kegiatan Ecosystem Builder Training yang digelar pada Jumat (21/11/2025) di Kota Yogyakarta.
Pelatihan yang dilaksanakan oleh INSPIRIT ini bertujuan untuk membangun kapasitas peserta sebagai Ecosystem Builder, yakni individu yang berperan sebagai arsitek perubahan sosial. Peran ini tidak berhenti pada pengelolaan program, tetapi mencakup kemampuan menghubungkan berbagai aktor, menenun jejaring kepercayaan, serta mengorkestrasi kolaborasi untuk menciptakan dampak kolektif yang berkelanjutan.
Dalam pelatihan ini, peserta diajak memahami bahwa perubahan sosial tidak dapat dibangun melalui kerja individual atau pendekatan sektoral semata. Seorang Ecosystem Builder justru bekerja dengan merancang ruang bersama—tempat berbagai inisiatif, komunitas, dan pemangku kepentingan dapat saling terhubung, belajar, dan tumbuh bersama.
Beragam materi disampaikan dalam pelatihan ini, mulai dari perubahan pola pikir (mindset shift) dari mentalitas “pahlawan tunggal” menuju “tuan rumah ekosistem”, pemetaan ekosistem untuk mengidentifikasi aktor kunci dan dinamika jejaring, hingga seni membangun kepercayaan sebagai fondasi kolaborasi. Peserta juga dibekali keterampilan merancang ekosistem perubahan sosial melalui ruang-ruang dialog inklusif serta mengorkestrasi dampak bersama agar perubahan yang dihasilkan bersifat sistemik.
“Salah satu refleksi menarik yang dibagikan dalam pelatihan ini adalah analogi jamur sebagai cermin peran Ecosystem Builder,” ungkap Dzikrina Farah Adiba, Program Manager SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism) Eco Bhinneka Muhammadiyah, yang menjadi salah satu peserta pelatihan Ecosystem Builder Training ini.
Ia menambahkan bahwa peran Ecosystem Builder seperti jamur yang sering tidak terlihat namun mampu membangun jaringan kehidupan dan mengikat air, Ecosystem Builder bekerja di balik layar untuk merawat jejaring dan memungkinkan kehidupan ekosistem tumbuh secara berkelanjutan.

Keterangan foto: Dzikrina Farah Adiba, Program Manager SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah, mempresentasikan pemetaan para pihak dengan pendekatan ekosistem, pada Ecosystem Builder Training, di Yogyakarta, 21 November 2025.
Peserta juga diajak mengenali potensi diri dan super power masing-masing—hal-hal yang dilakukan dengan penuh kesadaran, konsisten, dan memberi energi positif, bahkan tanpa diminta. Kesadaran ini menjadi modal penting dalam menentukan peran di dalam ekosistem.
Pelatihan ini juga mengulas karakter utama seorang Ecosystem Builder, antara lain jiwa petualang yang berani mencoba hal baru, pembelajar cepat, pemudah cara dengan semangat fasilitasi, penggerak atau katalisator kolaborasi, serta kepemimpinan yang melayani, terutama dalam situasi krisis. Di sisi lain, peserta diajak memahami tantangan yang dihadapi Ecosystem Builder di era T.U.N.A: Turbulence, Uncertainty, Novelty, dan Ambiguity.

Keterangan foto: Dani Wahyu Munggoro, Pelatih Ecosystem Builder Training dari INSPIRIT, pada 21 November 2025 di Yogyakarta.
Dani Wahyu Munggoro, Pelatih Ecosystem Builder Training dari INSPIRIT, menegaskan bahwa membangun ekosistem berarti membangun visi jangka panjang—bahkan hingga puluhan tahun ke depan. “Strategi pengembangannya dirangkum dalam tiga langkah utama: Connect, Collaborate, and Change. Koneksi yang hidup, kolaborasi yang berbagi daya, serta aksi kolektif menjadi kunci agar ekosistem tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang,” katanya.
Melalui Ecosystem Builder Training ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga perspektif baru tentang peran strategis kolaborasi dalam menghadapi tantangan sosial dan ekologis masa depan. Pelatihan ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi lahirnya lebih banyak arsitek ekosistem perubahan sosial yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

Keterangan foto: Foto bersama seluruh peserta dan fasilitator Ecosystem Builder Training, di Yogyakarta, 21 November 2025.


