Mendorong Usaha Ramah Lingkungan melalui Greenpreneurship

Keterangan foto: Muhammad Nur Afif Aulia, Circular Economy Program Manager Manava Foundation, berbagi tentang “Greenpreneur Empowerment for Sustainable Future” di acara Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah, 2 Mei 2026. (Foto oleh: Fajar Firmansyah/ @ecobhinneka)

Bagaimana jika menjaga lingkungan juga bisa berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat? Gagasan ini menjadi fokus pembahasan dalam sesi Greenpreneur Empowerment for Sustainable Future bersama Muhammad Nur Afif Aulia, Circular Economy Program Manager Manava Foundation, dalam rangkaian Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah.

Dalam pemaparannya, Afif menjelaskan bahwa pendekatan greenpreneurship atau kewirausahaan hijau perlu dibangun secara berkelanjutan, mulai dari peningkatan kapasitas masyarakat hingga akses pasar. Menurutnya, banyak program pemberdayaan berhenti di tahap pelatihan tanpa memikirkan keberlanjutan usaha masyarakat setelah program selesai.

“Kita tidak bisa berhenti di pelatihan atau bantuan alat saja. Harus dipikirkan juga produknya nanti dijual ke mana,” jelasnya kepada peserta.

Afif memperkenalkan model pemberdayaan empat tahap yang dikembangkan Manava Foundation, mulai dari upstream melalui pelatihan dan penyediaan alat, midstream berupa inkubasi usaha dan pengembangan produk, hingga downstream yang menghubungkan produk warga dengan pasar dan pembeli.

Menurutnya, pendekatan ekonomi sirkular membuka peluang agar persoalan sampah dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.

“Waste to value. Masalah lingkungan bisa diubah menjadi peluang,” ujarnya.

Dalam sesi tersebut, peserta juga diajak melihat bagaimana konsep greenpreneurship diterapkan dalam praktik nyata di lapangan. Afif memperkenalkan unit usaha Jaga Bumi Nusantara, sebuah rumah inovasi dan inkubasi greenpreneur yang mengembangkan pendekatan ekonomi sirkular.

Melalui inisiatif ini, berbagai produk berbasis upcycle dan recycle dikembangkan, bersama dengan pangan organik serta produk ramah lingkungan berbasis lokal dan produksi rumahan (eco-friendly local & home made).

Keterangan foto: Muhammad Nur Afif Aulia, Circular Economy Program Manager Manava Foundation, berbagi tentang “Greenpreneur Empowerment for Sustainable Future” di acara Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah, 2 Mei 2026. (Foto oleh: Fajar Firmansyah/ @ecobhinneka)

Model ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dan sumber daya tidak hanya berhenti pada aspek pengurangan limbah, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi rantai nilai ekonomi yang berkelanjutan dan membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Diskusi berlangsung interaktif ketika peserta membagikan pengalaman dan tantangan di wilayah masing-masing. Zahro dari Banyuwangi, misalnya, menceritakan pengembangan selai buah naga tanpa limbah bersama petani lokal. Sementara Acil dari Kalimantan Barat berbagi pengalaman memproduksi tas berbahan jeans bekas dan sabun dari ampas kopi bersama komunitas difabel.

Fadila dari Halmahera Selatan juga mengangkat persoalan sampah laut dan tantangan menggerakkan masyarakat pesisir untuk mengelola sampah secara lebih bijak. Menanggapi hal tersebut, Afif menekankan pentingnya membangun gerakan yang dekat dengan masyarakat dan disertai pengorganisasian yang kuat.

“Kalau mau membangun gerakan, tidak harus langsung besar, yang penting adalah mulai bergerak dan terus menjaga konsistensinya,” jelas Afif.

Selain membahas usaha ramah lingkungan, sesi ini juga menekankan pentingnya kolaborasi, jejaring pasar, dan penguatan komunitas agar gerakan lingkungan dapat berjalan berkelanjutan.

Sesi ini dilaksanakan pada 2 Mei 2026 di Aula Asrama Mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta, sebagai bagian dari rangkaian Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah yang mempertemukan anak muda lintas iman dari berbagai daerah di Indonesia.