Pengembangan Budidaya Selai Buah Naga di Banyuwangi

Penulis : Zahrotul Janah
Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi

Dok. Tim Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi

Industri buah naga di Banyuwangi berkembang pesat dan menjadikan daerah ini sebagai salah satu sentra buah naga terbesar di Indonesia. Namun, pengolahan buah naga di Banyuwangi masih belum maksimal karena sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk segar, sehingga harga sering turun saat panen raya. Meski sudah berkembang berbagai produk olahan seperti dodol, keripik, minuman, selai, hingga kosmetik berbahan buah naga, skala industrinya masih didominasi UMKM dan belum terintegrasi secara kuat dari hulu ke hilir. 

Di Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, kondisi tersebut sangat dirasakan masyarakat, khususnya para petani buah naga di Dusun Sumberjambe. Saat musim panen raya tiba, harga buah naga sering mengalami penurunan drastis. Jika pada kondisi normal harga buah naga dapat mencapai Rp8.000–Rp12.000 per kilogram, saat panen melimpah harga bisa turun hingga Rp2.000–Rp3.000 per kilogram, bahkan terkadang tidak sebanding dengan biaya produksi dan distribusi. Kondisi ini menyebabkan sebagian petani mengalami kerugian karena hasil panen tidak terserap pasar secara maksimal.

Dok. Tim Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi

Tidak sedikit buah naga yang akhirnya membusuk di kebun atau dibuang karena kualitasnya menurun dan tidak layak jual. Situasi tersebut membuat pendapatan petani menjadi tidak stabil. Sebagian besar keluarga hanya bergantung pada penjualan buah segar tanpa memiliki alternatif pengolahan yang mampu meningkatkan nilai tambah produk.

Pada kondisi awal, keterlibatan perempuan dan anak muda dalam rantai ekonomi buah naga juga masih sangat terbatas. Para ibu rumah tangga umumnya hanya berperan membantu panen atau pekerjaan domestik, sementara anak muda cenderung tidak tertarik pada sektor pertanian karena dianggap kurang menjanjikan dan monoton. Buah naga dipandang hanya sebagai komoditas pertanian biasa, bukan sebagai sumber inovasi ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan lebih luas.

Berangkat dari kondisi tersebut, program pengembangan olahan buah naga mulai dijalankan melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi kreatif dan keberlanjutan ekologis. Program ini menghadirkan pelatihan pengolahan buah naga menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah, khususnya selai buah naga sebagai produk utama. Selain itu, masyarakat juga dikenalkan pada konsep pemanfaatan buah naga secara lebih menyeluruh agar tidak menghasilkan banyak limbah.

Dok. Tim Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi

Capaian paling bermakna program adalah berhasil mengubah buah naga sebagai komoditas utama desa menjadi media pemberdayaan ekonomi sekaligus edukasi masyarakat. Program menghadirkan mini festival buah naga dan mendorong inovasi berbagai produk turunan seperti selai buah naga, bakpao isi selai buah naga, nastar, dan olahan lainnya. Program juga berhasil memantik keterlibatan ibu-ibu dan anak muda untuk melihat potensi ekonomi lokal secara lebih kreatif dan bernilai tambah. Ada pengusaha perempuan yang didampingi hingga mendapatkan, legalitas produk, peningkatan kualitas kemasan, serta pengembangan.

Selain itu, mulai muncul usaha-usaha kecil baru berbasis olahan buah naga. Anak-anak muda yang sebelumnya kurang tertarik pada sektor pertanian mulai terlibat dalam proses pemasaran digital, desain kemasan produk, hingga promosi melalui media sosial. Mereka mulai melihat bahwa pertanian tidak hanya berhenti pada proses budidaya, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi industri kreatif yang memiliki peluang pasar lebih luas.

Perubahan paling mendasar dari program ini tidak hanya terlihat pada meningkatnya nilai ekonomi buah naga, tetapi juga pada tumbuhnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya keadilan ekologis dalam pertanian. Mulai ada warga yang memahami bahwa budidaya buah naga berkaitan erat dengan keberlangsungan tanah, air, dan ekosistem pendukungnya. Diskusi mengenai penggunaan gibgro atau percepatan pertumbuhan tanaman memunculkan kesadaran bahwa alam tidak boleh dipaksa demi keuntungan sesaat. Buah naga organik dipandang lebih sehat bagi manusia sekaligus lebih adil bagi bumi karena menjaga kesuburan tanah, kualitas air, dan keberlanjutan lingkungan. Dari kesadaran ini lahir pemahaman baru bahwa pertanian bukan hanya tentang hasil panen, tetapi juga tentang menjaga harmoni antara manusia dan alam untuk generasi mendatang.

Tantangan utama adalah fakta bahwa buah naga sebagai komoditas utama justru kurang diminati masyarakat lokal karena kejenuhan konsumsi. Selain itu, masyarakat belum sepenuhnya melihat buah naga sebagai produk yang dapat dikembangkan menjadi berbagai inovasi. Tantangan lain adalah belum adanya kajian mendalam terkait dampak budidaya buah naga terhadap lingkungan, termasuk penggunaan metode percepatan pertumbuhan dan dampaknya terhadap kualitas produk maupun keberlanjutan lingkungan.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, program mulai memperkuat edukasi masyarakat mengenai diversifikasi produk dan pentingnya inovasi pangan lokal. Masyarakat didorong untuk menciptakan produk yang lebih variatif agar tidak menimbulkan kejenuhan pasar. Program juga mulai mengenalkan pendekatan pertanian berkelanjutan dan diskusi mengenai dampak lingkungan dalam budidaya buah naga.

Pelajaran Terpetik

Praktik baik yang dapat direplikasi adalah pendekatan pengembangan ekonomi berbasis people, planet, dan profit. Program tidak hanya mendorong pengolahan produk untuk keuntungan ekonomi, tetapi juga mengaitkan isu keberagaman sosial dan keberlanjutan lingkungan. Program juga mengenalkan siklus hidup buah naga kepada anak muda dan masyarakat sehingga muncul pemahaman baru mengenai relasi antara pertanian, lingkungan, dan ekonomi lokal. Untuk keberlanjutan, program merencanakan penyusunan buku sebagai legacy program mengenai ekonomi dan keberlanjutan buah naga.

Hal yang awalnya tidak diduga namun ternyata menjadi sangat penting adalah munculnya perubahan cara pandang sosial masyarakat, terutama pada anak muda dan perempuan desa. Anak muda yang sebelumnya kurang tertarik pada pertanian mulai melihat bahwa sektor pertanian dapat dikembangkan secara kreatif melalui inovasi produk, desain kemasan, dan pemasaran digital. Sementara itu, perempuan yang sebelumnya hanya berada di ranah domestik mulai memiliki ruang lebih besar dalam aktivitas ekonomi dan pengambilan keputusan keluarga melalui usaha olahan buah naga. Proses produksi bersama juga memperkuat hubungan sosial antarwarga dan membangun semangat gotong royong yang sebelumnya mulai berkurang.

Dari program ini muncul pembelajaran bahwa pembangunan ekonomi desa akan lebih kuat jika dibangun melalui pendekatan sosial dan ekologis secara bersamaan. Ketahanan ekonomi masyarakat tidak cukup hanya bergantung pada hasil panen mentah, tetapi perlu didukung inovasi, kolaborasi komunitas, serta kesadaran menjaga lingkungan. Program ini juga menunjukkan bahwa edukasi lingkungan menjadi penting agar masyarakat memahami hubungan antara pertanian, kesehatan manusia, dan keberlanjutan sumber daya alam.
Ke depan, masih perlu dilakukan penguatan pada aspek keberlanjutan program, terutama dalampeningkatan kapasitas usaha dan perluasan jangkauan pasar sehingga dari buah naga ini ada ekosistem usaha keberlanjutan. Selain itu, diperlukan kajian lebih mendalam mengenai dampak budidaya buah naga terhadap lingkungan agar praktik pertanian yang berkembang benar-benar selaras dengan prinsip keadilan ekologis dan keberlanjutan jangka panjang.