Membuat Cerita Perubahan ala Pak Jamet

Belajar mendokumentasikan perubahan dari cerita yang sudah ada di lapangan

Keterangan foto: Ahsan Jamet Hamidi (mengenakan rompi biru) sedang membagikan pengalamannya mendampingi penulisan cerita perubahan di sebuah pertemuan Eco Bhinneka Muhammadiyah

Apa yang sebenarnya berubah setelah sebuah program berjalan? Cerita perubahan tidak harus dimulai dengan menulis. Ia bisa dimulai dengan bertanya.

Pada sebuah pertemuan Eco Bhinneka Muhammadiyah, Ahsan J. Hamidi, atau yang akrab kami panggil Pak Jamet, membagikan pengalamannya dalam mendampingi pengelola program menuliskan hasil dan perubahan yang terjadi dari sebuah program.

Selama lima tahun program berjalan, pengelola program di wilayah tersebut mengalami kesulitan menulis laporan. Laporan yang dihasilkan lebih banyak berisi daftar kegiatan dan belum banyak menggambarkan perubahan atau hasil yang terjadi.

Pak Jamet kemudian diminta mendampingi mereka menuliskan hasil program. Sebelum datang ke lokasi, ia terlebih dahulu melakukan pertemuan melalui Zoom dan meminta peserta mencoba menulis hasil program berdasarkan apa yang mereka pahami. Tulisan awal tersebut menjadi gambaran awal bagi Pak Jamet sebelum melakukan pendampingan.

Saat tiba di lokasi, ia mengajak 16 peserta menggali cerita mereka melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana: masalahnya apa, ketika menghadapi masalah tersebut program masuk dengan cara apa, apa saja yang dilakukan, apa hasilnya, apa yang berbeda antara kondisi dulu dan sekarang, belajar dari siapa, apa hasil dari proses belajar tersebut, masalah apa yang masih ada, dan bagaimana solusinya.

Ternyata, peserta sangat lancar menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mereka bahkan dapat menyebutkan berbagai capaian dan angka. Tantangannya bukan karena mereka tidak memahami perubahan yang terjadi, tetapi karena mereka belum terbiasa menuangkannya dalam tulisan.

Bagi peserta yang kesulitan menulis, Pak Jamet meminta mereka merekam cerita secara lisan. Rekaman tersebut kemudian dibantu untuk dituangkan menjadi tulisan. Setiap cerita dibuat singkat, sekitar 100 kata, dilengkapi foto profil, dan dikumpulkan menjadi dokumentasi capaian program.

Menurut Pak Jamet, hasilnya bahkan beyond expectation. Bukan sekadar kumpulan data, tetapi kumpulan cerita perubahan.

Dari cerita tersebut, muncul satu pendekatan sederhana yang bisa dicoba oleh pengelola program Eco Bhinneka Muhammadiyah menjelang penutupan program: membuat “Cerita Perubahan ala Pak Jamet”.

Tidak perlu langsung menulis laporan panjang. Cerita bisa dimulai dengan beberapa pertanyaan sederhana:

  • Apa masalah atau kondisi awal yang dihadapi?
  • Apa yang dilakukan program untuk merespons kondisi tersebut?
  • Apa yang berubah setelah program berjalan?
  • Apa yang berbeda antara kondisi dulu dan sekarang?
  • Siapa saja yang terlibat dan dari siapa mereka belajar?
  • Apa hasil atau capaian yang paling terasa?
  • Tantangan apa yang masih ada dan bagaimana mengatasinya?
  • Apa solusi yang dilakukan dan apa pembelajaran yang ingin dibagikan?

Jika sulit menuliskannya, ceritakan saja secara lisan dan rekam terlebih dahulu. Dari sana, cerita dapat ditranskrip, dirapikan, dan dibuat menjadi tulisan singkat.

Mungkin selama ini cerita perubahan sudah ada di lapangan. Kita hanya perlu bertanya, mendengarkan, lalu menuliskannya.

(Farah Adiba)