Suara Bumi dalam Lensa, Cara Sekolah Dampingan Eco Bhinneka Semarakkan Musywil Ke-13 NA Jatim

Doc. Rico Adi Prasetyo : Melalui lensa ponsel, para peserta diajak mengenali, mengamati, dan mendokumentasikan biodiversitas

Semarak Musyawarah Wilayah (Musywil) Ke-13 Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur tidak hanya diwarnai dengan kegiatan organisasi. Semangat merawat kehidupan juga digaungkan melalui gerakan ekoliterasi bersama jurnalis muda. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan “Suara Bumi dalam Lensa: Jelajah Literasi Visual bersama Jurnalis Muda Lintas Iman” yang digelar di SMK Muhammadiyah 8 Siliragung, Sabtu (12/9/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut diikuti oleh 16 jurnalis muda yang tergabung dalam Models Jurnalisme, Komunitas Jurnalistik SMK Muhammadiyah 8 Siliragung. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Gema Literasi Nasyiatul Aisyiyah Banyuwangi dalam rangka Semarak Musywil Ke-13 Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timu.

Bagi Eco Bhinneka Muhammadiyah, kegiatan tersebut menjadi ruang belajar penting yang mempertemukan pendidikan, lingkungan, literasi, kepemimpinan muda, dan keberagaman. SMK Muhammadiyah 8 Siliragung sendiri merupakan sekolah dampingan Eco Bhinneka Muhammadiyah yang terus mengembangkan berbagai aksi lingkungan secara inklusif.

Aksi Lingkungan Perlu Suara

Kegiatan diawali dengan diskusi melingkar bersama Zahrotul Janah, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur Bidang Lingkungan Hidup serta Pustaka, Informasi dan Teknologi Digital, sekaligus Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah

Dalam diskusi tersebut, Zahrotul Janah menyampaikan bahwa gerakan lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar aksi langsung. Menurutnya, kegiatan seperti menanam pohon, membersihkan sampah, maupun menerapkan gaya hidup ramah lingkungan merupakan langkah penting. Namun, perubahan yang lebih luas juga membutuhkan orang-orang yang mampu menyampaikan cerita tentang kondisi lingkungan kepada masyarakat.

“Aksi lingkungan tidak terhenti sebatas menanam pohon, melakukan clean up sampah, atau mempraktikkan gaya hidup ramah lingkungan. Peran jurnalis juga penting, yaitu bagaimana mengabarkan kepada dunia tentang keadaan lingkungan di sekitar kita,” ujarnya.

Doc. Rico Adi Prasetyo : Jurnalis Muda Sekolah Dampingan Eco Bhinneka Muhammadiyah

Sebagai Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah, Zahrotul melihat jurnalis muda sebagai bagian penting dari tumbuhnya kepemimpinan ekologis generasi muda.

Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan perlu berjalan beriringan dengan kemampuan untuk membangun narasi dan menyuarakan persoalan yang terjadi di sekitar.

“Kalau tidak ada peran serta jurnalis dengan berbagai gaya penulisan yang mampu menyentuh hati, mungkin tidak semua orang akan tergerak menjalankan aksi lingkungan. Padahal menjaga lingkungan adalah kewajiban bersama dan menjadi nilai yang diajarkan oleh semua agama,” katanya.

Zahrotul kemudian memantik para jurnalis muda dengan pertanyaan mengenai isu-isu lingkungan yang mereka ketahui. Diskusi berlanjut pada persoalan kehilangan keanekaragaman hayati.

Para peserta diajak mengingat kembali berbagai jenis tumbuhan maupun hewan yang dahulu mudah ditemukan, tetapi kini mulai jarang terlihat atau bahkan tidak lagi dijumpai. Dari sana, peserta belajar bahwa perubahan lingkungan tidak selalu terjadi jauh dari kehidupan mereka. Kadang, kehilangan itu hadir secara perlahan. Burung yang dahulu berkicau setiap pagi mulai tidak terdengar. Tumbuhan yang dahulu tumbuh di sekitar rumah mulai sulit ditemukan.

Menanam, Mengamati, dan Membaca Alam

Setelah diskusi, para jurnalis muda melanjutkan kegiatan dengan melakukan penanaman 25 bibit loofah atau blustru dan 5 bibit markisa.
Namun kegiatan tersebut tidak berhenti pada proses menanam.

Peserta juga diajak mengobservasi berbagai jenis tumbuhan yang ada di lingkungan sekolah. Tumbuhan yang belum dikenal menjadi bahan eksplorasi. Para peserta menggali berbagai literatur untuk menemukan informasi mengenai nama, karakteristik, manfaat, serta peran tumbuhan tersebut dalam kehidupan.

Bagi Eco Bhinneka Muhammadiyah, proses tersebut menjadi bagian dari praktik ekoliterasi. Literasi tidak hanya dilakukan dengan membaca buku. Alam juga dapat menjadi sumber pengetahuan. Lingkungan sekolah menjadi ruang belajar terbuka yang memungkinkan siswa untuk melihat, bertanya, mencari informasi, serta membangun pemahaman tentang kehidupan di sekitarnya.

Tidak Semua Suara Dapat Didengar

Founder Models Jurnalisme, Cici Arista Devi, menjelaskan bahwa setiap peserta memiliki output karya berupa dokumentasi visual dan tulisan. Para jurnalis muda diminta memilih tumbuhan yang ditemukan di area sekolah, kemudian memotretnya dan membuat deskripsi berdasarkan hasil observasi dan penelusuran literatur.

Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus menjadi proses mengenalkan keanekaragaman hayati kepada para jurnalis muda melalui pendekatan yang dekat dengan dunia mereka.

“Tidak semua suara dapat didengar. Sebagian harus ditemukan, dilihat, lalu diceritakan,” katanya.

Usai mendapatkan arahan, para peserta kemudian dilepas untuk mengeksplorasi area sekolah. Dengan kamera dan telepon genggam, para jurnalis muda menyusuri lingkungan sekolah untuk menemukan cerita-cerita kecil tentang kehidupan yang tumbuh di sekitarnya.

Ketika Suara Burung Mulai Hilang

Kegiatan tersebut menghadirkan pengalaman baru bagi para peserta. Salah satunya dirasakan Aurelia Clarista Putri. Ia mengaku sebelumnya belum banyak mengikuti isu lingkungan. Namun, diskusi tentang kehilangan keanekaragaman hayati membuatnya mulai melihat perubahan yang terjadi di sekitarnya.

“Awalnya saya tidak mengikuti terkait isu lingkungan. Ternyata setelah mengikuti kegiatan ini kami membahas tentang kehilangan keanekaragaman hayati dan saya juga mengalami hal itu, yaitu sudah hilangnya suara burung setiap pagi,” katanya.

Sementara itu, Rico Adi Prasetyo menilai kegiatan tersebut menjadi bentuk edukasi yang penting bagi jurnalis muda. Menurutnya, pemahaman terhadap isu lingkungan akan membuat generasi muda lebih sensitif terhadap berbagai perubahan yang terjadi.

“Kegiatan ini adalah edukasi yang baik untuk jurnalis muda dan kami jadi lebih sensitif terhadap isu seperti El Nino. Dari kegiatan ini bisa menjadi langkah awal para jurnalis muda lebih dekat dengan bumi dan menyuarakan isu lingkungan,” ujarnya.

Sekolah sebagai Ruang Belajar Inklusif

Bagi Eco Bhinneka Muhammadiyah, sekolah memiliki posisi strategis dalam membangun generasi yang memiliki kesadaran ekologis sekaligus mampu hidup dalam keberagaman. SMK Muhammadiyah 8 Siliragung sebagai sekolah dampingan Eco Bhinneka Muhammadiyah terus menjadi ruang untuk mengembangkan berbagai praktik pendidikan lingkungan yang inklusif.

Melalui Suara Bumi dalam Lensa sekolah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan. Sekolah menjadi ruang perjumpaan antara manusia, alam, pengetahuan, dan keberagaman. Menjadi laboratorium hidup tempat generasi muda belajar bahwa menjaga bumi bukan hanya tentang melakukan aksi, tetapi juga tentang memiliki kepekaan untuk melihat perubahan.

Jurnalis muda diajak memahami bahwa kamera tidak hanya berfungsi untuk mengambil gambar.

Lensa dapat menjadi alat untuk menemukan cerita. Tulisan tidak hanya menjadi kumpulan kata. Ia dapat menjadi suara bagi sesuatu yang tidak mampu berbicara.

Melalui momentum Semarak Musywil Ke-13 Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur, Gema Literasi Nasyiatul Aisyiyah Banyuwangi menghadirkan cara lain dalam menyuarakan gerakan lingkungan.

Sebab ketika semakin banyak generasi muda mampu melihat bumi dengan lebih peka, memahami perubahan yang terjadi, lalu menyuarakannya kepada publik, harapan untuk merawat kehidupan akan memiliki lebih banyak suara. Dan dari sebuah sekolah dampingan Eco Bhinneka Muhammadiyah di Siliragung, suara itu kini mulai direkam melalui lensa para jurnalis muda. Tidak semua suara dapat didengar. Sebagian harus ditemukan, dilihat, lalu diceritakan.

Penulis : Maydini Eka Riski