Silaturahim ke Gereja Katedral Jakarta : Puasa, Masa Pantang, dan Pertaubatan Ekologis untuk Kelestarian Bumi

Keterangan : foto tim SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Jakarta bersama Romo Macarius Maharsono SJ. di Pastoran Gereja Katedral Jakarta (22/01/2026)

Kamis, 22 Januari 2026, Eco Bhinneka Muhammadiyah silaturahim kepada Romo Macarius Maharsono SJ. (Pastor Kepala Gereja Katedral Jakarta). Ditemani rintik hujan sore hari, Tim SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Jakarta disambut oleh kopi hangat racikan Romo Mahar sendiri.

Kunjungan ini dilakukan untuk menyampaikan ucapan selamat kepada Romo Mahar atas amanah barunya sebagai Pastor Kepala Gereja Katedral Jakarta, sekaligus membuka ruang kolaborasi antara Eco Bhinneka Muhammadiyah dan Gereja Katedral, khususnya bersama Orang Muda Katolik (OMK) Jakarta dalam menyambut Ramadhan dan Masa Pantang 2026.

Mengingat, Maklumat Muhammadiyah No. 01/MLM/1.1/B/ 2025 dan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Muhammadiyah menetepkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, maka umat Islam mulai melaksanakan Ibadah Puasa di hari itu.

Begitu juga pada tanggal yang sama, umat Katolik merayakan Ekaristi (Misa) Rabu Abu sebagai tanda memulai masa pra Paskah atau masa pantang dengan puasa selama 40 hari menuju Paskah. Dengan demikian, umat katolik dan muslim akan sama-sama memasuki masa pantang dan berpuasa pada waktu yang bersamaan.

Berkaca pada Ramadhan 1446 H/ 2025 M, data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), selama Ramadhan timbulan sampah nasional cenderung meningkat dibandingkan hari biasa, terutama sampah organik dan sisa makanan akibat aktivitas buka puasa bersama dan pasar Ramadhan.

KLH mencatat bahwa sampah organik masih mendominasi komposisi sampah nasional, yakni sekitar 41%, dan pada periode Ramadhan volumenya diperkirakan naik sekitar 15–20% di sejumlah daerah. Peningkatan ini menjadi tantangan serius bagi pengelolaan sampah nasional, khususnya menjelang Idul Fitri ketika konsumsi dan penggunaan kemasan sekali pakai semakin tinggi.

Padahal, puasa dan masa pantang sejatinya mengandung pesan pengendalian diri dari konsumerisme berlebih sekaligus penumbuhan empati terhadap sesama manusia dan alam, yang dapat diwujudkan melalui praktik puasa hijau, seperti mengurangi sampah makanan, membatasi plastik sekali pakai, serta membangun pola konsumsi yang lebih sadar dan berkelanjutan sebagai wujud kesalehan spiritual dan kesalehan ekologis.

Untuk itu, Romo Mahar mengatakan; “Di tengah kondisi bumi yang seperti saat ini, puasa dan masa pantang menjadi moment yang tepat sebagai sarana Pertaubatan Ekologis umat”.

Oleh karena itu, Ramadhan 1447 H dan masa pantang 2026 ini, SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Jakarta akan berkolaborasi dengan Gereja Katedral Jakarta, OMK Jakarta, dan Forum Lintas Iman Jakarta mendorong puasa hijau untuk kelestarian masa depan bumi, rumah kita bersama.

Penulis :

Fahmi Saiyfuddin (Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Jakarta)