Menggali “Ino Fo Makugawene”, Eco Bhinneka dan Relawan Peace Corps Bahas Relasi Agama, Lingkungan, dan Perdamaian

Keterangan tangkapan layar: Tim Eco Bhinneka Muhammadiyah bersama Elias (Eli) Brotman, U.S. Peace Corps Volunteer, dalam pertemuan daring pada Rabu (12/8). Pertemuan membahas pengalaman Eco Bhinneka dalam menghubungkan aksi lingkungan, relasi lintas iman, kepemudaan, dan pembangunan perdamaian di tingkat komunitas.

Jakarta, 12 Agustus 2026 — Bagaimana agama dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan ekologis sekaligus membangun kepercayaan dan perdamaian di tengah masyarakat yang pernah mengalami konflik?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan antara Elias (Eli) Brotman, U.S. Peace Corps Volunteer yang saat ini bertugas di Senegal, dengan tim Eco Bhinneka Muhammadiyah, Rabu (12/8). Pertemuan berlangsung secara daring pukul 15.00–16.30 WIB atau 08.00–09.30 waktu Senegal.

Eli saat ini tengah mempersiapkan rencana penelitian yang mengeksplorasi hubungan antara dialog lintas iman dan keberlanjutan lingkungan. Ketertarikannya berawal dari pencarian terhadap kelompok atau program yang bekerja di persimpangan kedua isu tersebut, hingga kemudian ia menemukan Eco Bhinneka Muhammadiyah, di Indonesia.

“Saya sangat tertarik untuk memahami bagaimana agama dapat berperan dalam keberlanjutan ekologis,” ujar Eli, yang kemudian menemukan Eco Bhinneka Muhammadiyah dalam pencariannya terhadap berbagai inisiatif di Indonesia.

Ketertarikan tersebut juga tidak terlepas dari pengalamannya sebagai relawan Peace Corps di Senegal. Selama bertugas, Eli terlibat dalam penanaman pohon, pendidikan keberlanjutan, pengembangan praktik agroforestri yang lebih berkelanjutan, serta pendampingan kelompok pemuda. Ia menyebut pembangunan hubungan dengan masyarakat sebagai bagian penting dari pekerjaannya.

“Sebagian besar waktu saya dihabiskan untuk membangun hubungan dengan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Saya ingin berkontribusi bukan hanya untuk negara saya, tetapi juga untuk membangun perdamaian dan dialog lintas iman,” ungkapnya.

Dalam pertemuan tersebut, Triningsih, Koordinator Finance and Program Eco Bhinneka Muhammadiyah, memperkenalkan Eco Bhinneka sebagai inisiatif kerukunan antarumat beragama melalui pendekatan lingkungan yang diinisiasi oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Program ini merupakan bagian dari JISRA (Joint Initiative for Strategic Religious Action) yang menggunakan pendekatan intra-religious, inter-religious, extra-religious, dan cross-cutting.

“Eco Bhinneka merupakan gabungan dari Ecology dan Kebhinnekaan. Lingkungan menjadi ruang bersama untuk mempertemukan masyarakat yang berbeda latar belakang agama dan membangun kerja sama,” jelas Triningsih.

Ia juga menjelaskan bahwa empat lokasi pionir Eco Bhinneka Muhammadiyah, mulai dari Surakarta, Banyuwangi, Pontianak, dan Ternate, memiliki konteks sosial yang beragam, termasuk pengalaman konflik sosial antarsuku maupun konflik bernuansa agama.

Salah satu konteks yang menarik perhatian Eli adalah Ternate, Maluku Utara, yang memiliki sejarah kehidupan masyarakat yang beragam sekaligus pengalaman konflik komunal pada 1999–2000. Konflik tersebut meninggalkan dampak kemanusiaan yang mendalam, mulai dari pengungsian hingga terganggunya mata pencaharian, pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sosial masyarakat.

Seiring waktu, proses rekonsiliasi yang melibatkan pemerintah dan tokoh-tokoh agama dari komunitas Muslim dan Kristen turut mendorong kembalinya kehidupan yang lebih damai dan harmonis. Bagi Eco Bhinneka Muhammadiyah, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perdamaian perlu terus diperkuat melalui kerja sama nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks tersebut, Eli tertarik dengan ungkapan local Ternate “Ino fo makugawene”. Makugawene bermakna saling mencintai dan menyayangi sesama manusia serta seluruh makhluk ciptaan Tuhan, sementara “ino fo” merupakan ajakan untuk bersama-sama mewujudkannya.

Ungkapan tersebut menurut Eli menarik karena memperlihatkan bagaimana nilai budaya lokal dapat mempertemukan relasi antarmanusia dengan kepedulian terhadap alam—dua hal yang juga menjadi perhatian dalam rencana penelitiannya.

Usman Mansur, Regional Manager JISRA Eco Bhinneka Muhammadiyah Maluku Utara, kemudian merekomendasikan dua lokasi yang potensial untuk mendukung penelitian Eli, yakni Dusun Tabanga, Kelurahan Sulamadaha, Kota Ternate, dan Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM).

“Tabanga dan AMGPM memiliki konteks yang berbeda tetapi saling melengkapi. Tabanga memberikan perspektif kehidupan masyarakat di tingkat akar rumput, sementara AMGPM dapat memperlihatkan peran pemuda dan organisasi keagamaan dalam membangun relasi lintas agama,” ujar Usman.

Tabanga merupakan wilayah dampingan Eco Bhinneka Muhammadiyah di Kota Ternate, dengan masyarakat yang hidup dalam keberagaman agama. Sementara AMGPM berada dalam konteks masyarakat Kota Ternate yang mayoritas Muslim dan menjadi ruang untuk melihat pengalaman kelompok minoritas, kepemudaan, serta hubungan sosial lintas agama.

Keterangan foto: Regional Manager JISRA Eco Bhinneka Muhammadiyah Maluku Utara, Usman Mansur, memaparkan makna dan nilai “Ino Fo Makugawene” dalam konteks kehidupan masyarakat Ternate. Nilai tersebut menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami hubungan antara kasih sayang terhadap sesama, kehidupan lintas iman, dan kepedulian terhadap alam.

Sementara itu, Annisa Gendis, pengelola program Together for People and Planet (TOPP) GreenAbility, berbagi pengalaman mengenai pengembangan kurikulum konservasi di salah satu sekolah di kawasan Papua, SMA Muhammadiyah Conservation Manokwari, yang memiliki keberagaman latar belakang siswa.

“Pengalaman ini menunjukkan bahwa pendidikan konservasi juga bisa menjadi ruang untuk mempertemukan anak-anak muda yang berbeda latar belakang dan membangun kesadaran bersama tentang lingkungan,” tutur Gendis.

Farah Adiba, Program Manager SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism) Eco Bhinneka Muhammadiyah, menyambut baik rencana penelitian Eli dan melihatnya sebagai peluang untuk memperluas pembelajaran dari praktik-praktik yang telah dilakukan Eco Bhinneka.

“Kami justru mendorong lebih banyak orang untuk mengambil pembelajaran dari praktik baik Eco Bhinneka Muhammadiyah, sehingga pengalaman tersebut dapat direplikasi di lebih banyak tempat dan manfaatnya semakin luas,” kata Farah.

Pertemuan ini membuka peluang pertukaran pengetahuan dan kerja sama lebih lanjut, khususnya dalam mendokumentasikan dan memperluas pembelajaran dari pengalaman Eco Bhinneka Muhammadiyah mengenai aksi lingkungan, relasi lintas iman, kepemudaan, dan pembangunan perdamaian, dari tingkat komunitas hingga ke tingkat global.

Keterangan tangkapan layar: Suasana diskusi yang hangat antara tim Eco Bhinneka Muhammadiyah dan Elias (Eli) Brotman