
Keterangan foto: Foto bersama seluruh peserta dan crew Pasar Kolaboraya, 23 November 2025 di JNM Bloc Yogyakarta. (Dokumentasi oleh @kolaboraya)
Apa jadinya jika aktivis lingkungan, pegiat budaya, komunitas lintas iman, hingga inovator sosial berkumpul dalam satu ruang?—dalam ruang yang inklusif, partisipatif, dan memberi kebebasan bagi ide untuk bertumbuh? Jawabannya hadir di Pasar Kolaboraya 2025.
Digelar pada 22–23 November 2025 di JNM Bloc, Yogyakarta, Pasar Kolaboraya menghadirkan tiga agenda utama yang saling terhubung. Rangkaian kegiatan ini dirancang sebagai ruang perjumpaan, pembelajaran, dan perumusan aksi kolektif bagi komunitas, organisasi masyarakat sipil, serta para kreator perubahan sosial dari berbagai sektor dan isu.
Agenda tersebut meliputi Pasar Komunitas sebagai ruang berbagi gagasan dan praktik baik melalui diskusi interaktif, panggung ekspresi, lokakarya kreatif, hingga aktivitas edukatif; Workshop Ecosystem Builder sebagai forum lintas ekosistem untuk memanen ide dan merumuskan aksi bersama; serta Acara Puncak Pasar Kolaboraya 2025 yang mempertemukan para ecosystem builder dengan ratusan kreator perubahan sosial guna merajut kolaborasi lintas sumber daya dan memperluas dampak perubahan.

Keterangan foto: Fadhil Azhar Permana, Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Jawa Barat, ikut menyampaikan gagasannya pada Workshop Ecosystem Builder di Pasar Kolaboraya, 22 November 2025, JNM Bloc Yogyakarta. (Dokumentasi oleh @kolaboraya)
Ketika Kolaborasi Terasa Cair dan Menyenangkan
Bagi Fadhil Azhar Permana, Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Jawa Barat, pengalaman paling berkesan dari Pasar Kolaboraya adalah proses kolaborasi yang benar-benar kolektif.
“Di sini kami tidak datang sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang sama,” tuturnya.
Mengikuti kelas Ruang Antara di klaster Budaya, Fadhil bersama peserta lain merancang konsep perubahan berbasis budaya Indonesia melalui gagasan Festival Nongkrong. Proses ini difasilitasi oleh Roemah Inspirit dengan pendekatan seni dan kreativitas, yang membuat diskusi terasa cair dan setara
“Tidak ada jarak antara fasilitator dan peserta. Justru dari situ kolaborasi terasa hidup, kreatif, dan bermakna,” ujarnya.
Pengalaman serupa dirasakan Elbu Bahtiar, Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Ia mengaku Pasar Kolaboraya membuka wawasannya tentang luas dan kayanya gerakan sosial di Indonesia.
“Banyak sekali komunitas dan organisasi dengan program-program yang inspiratif dan berdampak di daerah masing-masing,” katanya.

Keterangan: Eco Bhinneka Muhammadiyah berkolaborasi dengan Gudskul, Ashoka Indonesia, Gusdurian, dan SHEEP – yang tergabung dalam Cluster Budaya merumuskan rencana aksi kolektif bertajuk “Festival Nongkrong 2026” (Dokumentasi oleh @kolaboraya)
Membayangkan Masa Depan Gerakan yang Berekosistem
Pasar Kolaboraya juga menjadi ruang refleksi tentang masa depan gerakan masyarakat sipil. Menurut Fadhil, kekuatan perubahan terletak pada kerja bersama dalam ekosistem.
“Ketika organisasi bergerak sendiri-sendiri, dampaknya terbatas. Tapi ketika terhubung dalam satu ekosistem isu, kerja-kerja perubahan menjadi lebih kuat, terstruktur, dan berkelanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, Elbu melihat ekosistem gerakan sebagai jalan menuju masyarakat yang lebih berdaya.
“Masyarakat yang melek ekonomi dan politik adalah fondasi penting menuju kesejahteraan,” ujarnya. Pesan yang mengemuka pun jelas: perubahan sosial bukan kerja solo, melainkan kerja kolektif.

Keterangan foto: Dzikrina Farah Adiba, Program Manager SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism) Eco Bhinneka Muhammadiyah, hadir sebagai bagian dari Ecosystem Builder di Pasar Kolaboraya, 22-23 November 2025, JNM Bloc Yogyakarta. (Dokumentasi oleh @kolaboraya)
Merawat Gerakan dari Dalam Ekosistem
Hadir sebagai ecosystem builder, Dzikrina Farah Adiba, Program Manager SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism) Eco Bhinneka Muhammadiyah, meyakini gerakan masyarakat sipil yang terhubung dalam ekosistem akan melahirkan dampak perubahan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
“Hal yang paling berkesan bagi saya adalah kesempatan bertemu dengan sesama ecosystem builder dari berbagai organisasi, lalu bersama-sama merumuskan aksi kolektif,” ungkap perempuan yang akrab disapa Farah ini.
Menurutnya, ketika organisasi masyarakat sipil bergerak dalam ekosistem yang saling terhubung, dampak perubahan justru akan semakin kuat dan meluas.

Keterangan foto: Suasana Workshop Ecosystem Builder di Pasar Kolaboraya, 22-23 November 2025, JNM Bloc Yogyakarta. (Dokumentasi oleh @kolaboraya)
“Kami berkesempatan bertemu dengan para spark generators—mereka yang telah belasan tahun bekerja bersama masyarakat akar rumput. Pengalaman mereka menjadi pengingat bahwa kerja-kerja perubahan membutuhkan konsistensi, keberpihakan, dan keberlanjutan,” tambah Farah.
Dari para spark generators tersebut, Farah menangkap satu pelajaran penting: ketika CSO bergerak dalam ekosistem, meskipun gerakan tampak kecil dan tidak selalu terlihat di permukaan, ia bisa hadir di mana-mana—tumbuh dan menyebar seperti jamur.
Oleh-Oleh dari Pasar untuk Eco Bhinneka Muhammadiyah
Lalu, apa saja yang dibawa pulang dari Pasar Kolaboraya 2025?
Bagi Fadhil, Pasar Kolaboraya menjadi sumber inspirasi penting bagi pengembangan program Eco Bhinneka Muhammadiyah, khususnya di Jawa Barat.
“Pendekatan ekosistem dan kampanye kreatif pada isu keberagaman, toleransi, dan perubahan iklim sangat relevan dengan visi Eco Bhinneka Muhammadiyah,” ujarnya.
Ia melihat peluang besar untuk membangun ekosistem kolaborasi CSO yang solid, sehingga kampanye lingkungan lintas iman dapat berjalan lebih terarah, berdampak, dan berkelanjutan—bahkan berpotensi melahirkan komunitas-komunitas baru hasil kolaborasi lintas organisasi.
Sementara itu, Elbu membawa pulang pembelajaran yang lebih teknis namun tak kalah penting.
“Saya jadi lebih memahami bagaimana menyusun konsep kegiatan yang terstruktur dan sistematis sebagai bekal penguatan program ke depan,” katanya.
Farah menambahkan bahwa salah satu pelajaran kunci dari Pasar Kolaboraya adalah pentingnya merawat koneksi yang telah terbangun. “Kita perlu terus menjaga dan merawat hubungan baik dengan para mitra. Dari relasi yang dirawat itulah kolaborasi jangka panjang dan dampak yang berkelanjutan bisa tumbuh,” ungkapnya.
Rencana Aksi Kolaboratif: Festival Nongkrong 2026
Pada Pasar Kolaboraya 2025, Fadhil, Elbu, dan Farah tergabung sebagai ecosystem builder dalam Cluster Budaya, bersama rekan-rekan dari Gudskul, Ashoka Indonesia, Gusdurian, dan SHEEP. Dalam forum ini, Cluster Budaya mempresentasikan rencana aksi kolektif bertajuk “Festival Nongkrong 2026”, yang disampaikan secara unik melalui format obrolan santai di warung kopi—merepresentasikan ruang keseharian warga sebagai titik temu gagasan dan perubahan.

Keterangan foto: Elbu Bahtiar, Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Sulawesi Selatan, memerankan diri sebagai pemilik warung kopi, saat sesi pementasan aksi kolaboratif bersama rekan-rekan Cluster Budaya, di Pasar Kolaboraya, 23 November 2025, JNM Bloc Yogyakarta. (Dokumentasi oleh @kolaboraya)
Gagasan Festival Nongkrong berangkat dari keyakinan bahwa kesadaran kolektif memiliki peran penting dalam merawat keberagaman budaya, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan, nilai-nilai kemanusiaan, dan keberlanjutan ekonomi. Festival ini dirancang sebagai ruang bersama untuk mendokumentasikan dan merayakan budaya lokal—mulai dari kuliner, tarian, seni, hingga permainan tradisional.
“Bersiaplah menyambut Festival Nongkrong Agustus 2026: ruang bersama untuk merayakan dan merawat budaya lokal. Dari sinilah kita membawa pulang satu pesan bersama—rawat budaya, alam terjaga, masyarakat sejahtera, dan Indonesia bahagia,” tutur narator dalam penampilan Cluster Budaya.

Keterangan foto: Hasil diskusi dari Ecosystem Builder di Cluster Budaya, mengenai konsep FESTIVAL NONGKRONG 2025. Diskusi dilaksanakan pada sesi Workshop Ecosystem Builder di Pasar Kolaboraya, 22-23 November 2025, JNM Bloc Yogyakarta. (Dokumentasi oleh @kolaboraya)
Pasar Boleh Usai, Gerakan Terus Berlanjut
Pasar Kolaboraya 2025 mungkin telah usai, namun jejaring, gagasan, dan semangat kolaborasi yang tumbuh di dalamnya terus bergerak. Bagi Eco Bhinneka Muhammadiyah, pengalaman ini menjadi titik awal untuk merawat kolaborasi, memperkuat ekosistem, dan menghidupkan kerja-kerja perubahan yang berakar pada keberagaman dan solidaritas.


