
Keterangan: Tangkapan layar poster acara webinar Youth, Environment, and Peacebuilding: Taking Action for a Sustainable Future yang diselenggarakan oleh Global Peace Foundation (GPF) Indonesia pada Selasa (23/6).
Jakarta, 23 Juni 2026 – Di tengah tantangan konflik sosial dan krisis lingkungan yang semakin kompleks, keberagaman Indonesia seharusnya menjadi fondasi persatuan, bukan sumber perpecahan.
Pesan tersebut disampaikan oleh Ahsan Jamet Hamidi, Kepala Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah, dalam webinar Youth, Environment, and Peacebuilding: Taking Action for a Sustainable Future yang diselenggarakan oleh Global Peace Foundation (GPF) Indonesia pada Selasa (23/6).
Webinar yang dimoderatori oleh Isman Habibillah, Communication Manager Global Peace Foundation Indonesia, menghadirkan diskusi lintas perspektif mengenai peran generasi muda dalam memperkuat perdamaian sekaligus menjawab tantangan lingkungan. Kegiatan ini juga menghadirkan Carly Leung, Co-founder Climate Incubator, serta diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Membuka kegiatan, Shintya Rahmi Utami, General Manager Global Peace Foundation Indonesia, menegaskan bahwa krisis lingkungan tidak dapat dipisahkan dari dinamika sosial yang terjadi di masyarakat. Menurutnya, kerusakan lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan ancaman terhadap ketahanan pangan tidak hanya berdampak pada alam, tetapi juga memengaruhi stabilitas sosial dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, generasi muda perlu mengambil peran yang lebih aktif dalam menghadirkan solusi.
“Anak muda tidak hanya menjadi kelompok yang akan mewarisi dampak dari berbagai krisis yang terjadi saat ini, tetapi juga telah menunjukkan kapasitasnya dalam memimpin perubahan. Mereka menggerakkan komunitas, menginspirasi aksi kolektif, dan menghadirkan berbagai solusi inovatif bagi tantangan global,” ujar Shintya.
Sementara itu, Carly Leung menekankan pentingnya penguatan kapasitas generasi muda dalam menghadapi krisis global. Ia menyebut anak muda sebagai motor perubahan yang memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan untuk menciptakan solusi baru bagi tantangan lingkungan dan sosial. “Generasi muda adalah mesin penggerak perubahan. Ketika mereka terus mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan potensinya, mereka dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun masa depan yang lebih berkelanjutan,” ungkap Carly.
Dalam paparannya, Ahsan Jamet Hamidi menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat keberagaman yang sangat tinggi, dengan sekitar 1.340 kelompok etnis, lebih dari 350 bahasa daerah, serta beragam agama dan budaya yang hidup berdampingan. Menurutnya, keberagaman tersebut telah menjadi fondasi persatuan bangsa sejak masa para pendiri negara.
Namun, keberagaman juga membutuhkan ruang pengelolaan yang adil dan inklusif agar tidak berkembang menjadi sumber ketegangan sosial. Ahsan mengingatkan bahwa berbagai konflik sosial yang pernah terjadi di Indonesia, seperti kerusuhan Mei 1998, konflik Ambon, konflik Poso, konflik Sampit, konflik Sambas, hingga peristiwa di Situbondo, Tasikmalaya, dan Tanjung Balai, menunjukkan bahwa perbedaan identitas bukanlah satu-satunya penyebab konflik.
“Banyak konflik dipicu oleh ketidakadilan sosial, kesenjangan ekonomi, persaingan sumber daya, serta lemahnya tata kelola keadilan,” jelasnya.

Keterangan: Tangkapan layar Ahsan Jamet Hamidi, Kepala Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah, dalam webinar Youth, Environment, and Peacebuilding: Taking Action for a Sustainable Future yang diselenggarakan oleh Global Peace Foundation (GPF) Indonesia pada Selasa (23/6).
Ia menegaskan bahwa persoalan sosial dan lingkungan saling berkaitan. Ketimpangan sosial, eksploitasi sumber daya alam, serta rendahnya kesadaran kolektif dapat memperkuat kerentanan terhadap konflik sekaligus memperburuk kondisi lingkungan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Eco Bhinneka Muhammadiyah mengembangkan ruang-ruang dialog dan kolaborasi lintas iman dan komunitas. Program ini mempertemukan anak muda dari berbagai latar belakang untuk membahas isu sosial dan lingkungan secara bersama-sama.
Ahsan menjelaskan bahwa inisiatif Eco Bhinneka Muhammadiyah telah melibatkan pemuda di berbagai daerah seperti Solo, Banyuwangi, Pontianak, dan Ternate. Melalui forum dialog, peserta diajak mengidentifikasi persoalan lokal, membangun pemahaman lintas kelompok, dan merancang aksi nyata di komunitas masing-masing.
“Hasilnya menunjukkan bahwa dialog mampu memperkuat saling pengertian, membangun kepercayaan, dan mendorong aksi kolaboratif untuk mencegah konflik sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan,” ujarnya.
Menutup paparannya, Ahsan menegaskan bahwa meskipun Indonesia menghadapi tantangan sosial dan lingkungan yang kompleks, keberagaman tetap merupakan modal utama untuk membangun masa depan yang lebih baik.
“Melalui dialog, kolaborasi, dan inisiatif seperti Eco Bhinneka Muhammadiyah, kehidupan yang damai dan lingkungan yang berkelanjutan dapat diwujudkan. Generasi muda memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang mengubah kesadaran menjadi aksi nyata untuk masa depan yang lebih adil dan inklusif,” paparnya.
Menutup sesi, Ahsan Jamet Hamidi menekankan pentingnya aksi kecil yang dilakukan secara konsisten.
“Kadang yang bisa kita lakukan sederhana, seperti menyalakan lilin kecil di tengah kegelapan. Namun langkah kecil itu dapat mencegah kerusakan yang lebih besar. Lingkungan yang baik adalah hak kita bersama,” ujarnya.


