
Doc. Workshop Diseminasi Hasil Penelitian “Model Keterhubungan Ekologis pada Generasi Z di Indonesia”,
Pengalaman gerakan ekologis berbasis komunitas menjadi perspektif penting dalam membaca keterhubungan Generasi Z dengan lingkungan. Hal tersebut disampaikan Zahrotul Janah, S.Kom., M.M., saat menjadi narasumber pembahas dalam Workshop Diseminasi Hasil Penelitian “Model Keterhubungan Ekologis pada Generasi Z di Indonesia”, yang digelar di Gedung Ahmad Zainuri, Universitas Muhammadiyah Jember, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–13.00 WIB ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian dalam Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi Gelombang IX BRIN.
Penelitian tersebut merupakan kerja kolaboratif lintas disiplin, lintas iman, dan lintas gender. Tim penelitian diketuai Dr. J.B. Heru Prakosa, SJ, dari Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia didampingi dua anggota peneliti, yakni Dr. Johanes Seno Aditya Utama, S.Psi., M.Si., dari Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, serta Dr. Nurlaela Widyarini, S.Psi., M.Si., dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember.
Penelitian ini berfokus pada keterhubungan ekologis pada mahasiswa Generasi Z dan secara khusus mengkaji bagaimana generasi tersebut membangun keterhubungan ekologis melalui kesadaran, pemahaman, dan praksis.
Dalam forum diseminasi tersebut, Zahrotul membawa perspektif dari pengalaman Eco Bhinneka Muhammadiyah, khususnya dalam membangun gerakan ekologis berbasis komunitas dan lintas iman. Berbagai praktik seperti Besuk Sungai, brand audit, aksi hutan lestari, penanaman pohon, pemasangan biopori di tempat ibadah, hingga pengembangan produk ramah lingkungan menjadi contoh konkret yang dikaitkan dengan temuan penelitian.
Dari Kesadaran Menuju Praksis
Zahrotul mengapresiasi penelitian tersebut karena melihat keterhubungan ekologis bukan semata persoalan pengetahuan tentang lingkungan. Ada proses yang menghubungkan kesadaran, pemahaman, dan praksis sehingga pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi tindakan.
Pengalaman Eco Bhinneka Muhammadiyah menunjukkan bahwa proses tersebut dapat berlangsung melalui pengalaman langsung di alam.
“Dalam pengalaman kami, alam bukan sekadar lokasi kegiatan. Alam menjadi ruang belajar, ruang refleksi, bahkan ruang perjumpaan lintas iman.”
Melalui kegiatan seperti Besuk Sungai, anak muda tidak hanya diajak melihat persoalan sampah, tetapi juga berinteraksi langsung dengan sungai, mengidentifikasi persoalan lingkungan, melakukan refleksi, dan mencari solusi bersama.
Hal yang sama terlihat dalam praktik brand audit, yakni identifikasi sampah untuk melacak produsen atau perusahaan penghasil limbah di lingkungan. Praktik tersebut menjadi sarana bagi anak muda untuk memahami persoalan sampah secara lebih kritis.
Komunitas Menjaga Energi Perubahan
Salah satu poin penting yang disoroti Zahrotul adalah peran komunitas. Penelitian menempatkan komunitas sebagai mediator sosial-praktis, dan pengalaman Eco Bhinneka Muhammadiyah memperlihatkan hal tersebut secara nyata.
Banyak anak muda, menurutnya, pada awalnya hadir karena diajak teman. Namun, mereka kemudian bertahan karena menemukan komunitas yang saling menguatkan.
“Mereka belajar melalui pengalaman. Mereka bertahan karena komunitas. Mereka bergerak karena diberi kepercayaan.”
Karena itu, Generasi Z tidak cukup ditempatkan sebagai objek kampanye lingkungan. Mereka perlu menjadi subjek gerakan yang mendapatkan ruang untuk mengalami, berefleksi, mengambil keputusan, dan melakukan aksi.
Komunitas kemudian menjadi ruang yang menjaga energi perubahan agar tidak berhenti pada satu kegiatan. Ia dapat berkembang menjadi kebiasaan, nilai bersama, dan budaya ekologis.
Dari Gerakan Kecil Menjadi Budaya Ekologis
Zahrotul juga mengaitkan pengalaman gerakan Eco Bhinneka Muhammadiyah dengan pentingnya membangun budaya ekologis.
“Inilah yang kami sebut budaya ekologis. Perubahan besar tidak selalu dimulai dari aksi besar. Ia dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama.”
Kebiasaan membawa tumbler, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, melakukan aksi lingkungan, hingga mengembangkan produk ramah lingkungan dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Pendekatan kepada Generasi Z juga perlu dilakukan dengan metode yang sesuai dengan karakter mereka. Salah satu contoh yang dibawa Zahrotul adalah board game edukasi lingkungan. Media tersebut dikembangkan sebagai upaya menghadirkan pengalaman, refleksi, komunitas, dan ekologi tindakan dalam satu ruang belajar yang dekat dengan karakter Generasi Z.
Mempertemukan Riset dan Praktik Gerakan
Kehadiran Zahrotul dalam workshop menjadi ruang dialog antara hasil penelitian akademik dengan pengalaman gerakan ekologis di lapangan.
Di satu sisi, penelitian yang dikembangkan oleh Dr. J.B. Heru Prakosa, SJ bersama Dr. Johanes Seno Aditya Utama dan Dr. Nurlaela Widyarini menawarkan kerangka akademik untuk memahami keterhubungan ekologis Generasi Z.
Di sisi lain, pengalaman Eco Bhinneka Muhammadiyah memperlihatkan bagaimana keterhubungan tersebut dapat dibangun melalui praktik: mengalami alam, belajar bersama komunitas, melakukan refleksi, dan mengubah kepedulian menjadi tindakan.
Pertemuan antara riset dan praktik tersebut menjadi penting karena gerakan ekologis membutuhkan keduanya. Pengetahuan memberikan dasar untuk memahami persoalan, sementara pengalaman komunitas membantu menerjemahkan pengetahuan menjadi perubahan yang nyata.
Membangun Relasi dengan Kehidupan
Menutup tanggapannya, Zahrotul menegaskan bahwa tujuan pendidikan ekologis tidak semestinya berhenti pada upaya membuat Generasi Z sekadar “peduli lingkungan”.
Lebih jauh, yang perlu dibangun adalah relasi dengan kehidupan.
“Kita tidak sedang mendidik Generasi Z agar peduli kepada lingkungan. Kita sedang menemani mereka membangun relasi dengan kehidupan. Dan ketika relasi itu tumbuh, kepedulian berubah menjadi tindakan, tindakan menjadi budaya, budaya menjadi gerakan, dan gerakan mengantarkan kita menuju keadilan ekologis.”
Gagasan tersebut menjadi benang merah dari tanggapan Zahrotul terhadap penelitian. Generasi Z tidak hanya membutuhkan informasi tentang krisis ekologis, tetapi juga ruang untuk mengalami, komunitas untuk bertumbuh, kepercayaan untuk bergerak, dan kesempatan untuk menciptakan perubahan.
Melalui diseminasi penelitian ini, Eco Bhinneka Muhammadiyah turut menghadirkan pengalaman gerakan ekologis sebagai bagian dari percakapan akademik mengenai masa depan lingkungan dan Generasi Z.
Pada akhirnya, membangun keterhubungan ekologis bukan sekadar mengajarkan manusia untuk mencintai lingkungan. Lebih dari itu, ia adalah proses untuk membangun kembali relasi manusia dengan kehidupan, merawatnya bersama, dan mengubah kepedulian menjadi gerakan menuju keadilan ekologis. (Maydini)


