Bupati Banyuwangi: Buku Eco Bhinneka ini Sumber Inspirasi Merawat Kebhinnekaan dan Aksi Lingkungan

Keterangan foto: Tim penulis buku Jejak Eco Bhinneka di Ujung Timur Jawa bertemu dan berfoto bersama Bupati Ipuk Fiestiandani Azwar Anas pada kegiatan Tarawih dan Safari Ramadan di Banyuwangi, 1 Maret 2026

Suasana malam Ramadan di Kabupaten Banyuwangi terasa hangat ketika kegiatan Tarawih dan Safari Ramadan berlangsung di Masjid Ahmad Dahlan Banyuwangi, 1 Maret 2026. Malam itu bukan hanya tentang ibadah berjamaah, tetapi juga menjadi ruang pertemuan gagasan dan semangat merawat bumi bersama. Dalam kesempatan tersebut, tim Eco Bhinneka Muhammadiyah menyampaikan progress report dan capaian gerakan yang selama ini tumbuh di Banyuwangi.

Pertemuan dengan Bupati Ipuk Fiestiandani Azwar Anas berlangsung hangat dan penuh dialog. Tim penulis buku Jejak Eco Bhinneka di Ujung Timur Jawa bahkan menyiapkan satu halaman khusus untuk pesan beliau. Momen itu terasa istimewa, karena dalam suasana Ramadan, pembicaraan tentang kerukunan dan kelestarian lingkungan terasa semakin bermakna—seolah menjadi pengingat bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah sosial.

Ibu Ipuk menyampaikan apresiasi atas lahirnya buku perdana Eco Bhinneka. Ia berpesan bahwa buku ini diharapkan tidak berhenti sebagai dokumentasi perjalanan, tetapi menjadi sumber inspirasi yang mampu menggerakkan lebih banyak orang untuk merangkul kebhinnekaan dalam pelestarian lingkungan.

Jejak Aksi Eco Bhinneka di Banyuwangi

Sejak hadir di Banyuwangi, Eco Bhinneka tidak hanya membawa wacana, tetapi menghadirkan gerakan nyata di tengah masyarakat. Program ini membangun ruang kolaborasi lintas iman, lintas komunitas, dan lintas generasi untuk bersama-sama menjaga bumi.

Beberapa langkah yang telah dilakukan antara lain:

1. Dialog Lintas Iman tentang Lingkungan

Eco Bhinneka menghadirkan ruang perjumpaan antar tokoh agama, pemuda, dan komunitas masyarakat untuk membicarakan isu lingkungan. Dialog ini menegaskan bahwa setiap ajaran agama memiliki nilai yang sama: menjaga alam sebagai amanah bersama.

2. Aksi Bersih Lingkungan dan Edukasi Sampah

Bersama komunitas lokal dan kelompok pemuda, Eco Bhinneka menginisiasi berbagai kegiatan bersih lingkungan, pengurangan sampah plastik, serta edukasi pengelolaan sampah rumah tangga. Kegiatan ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga mengajak masyarakat memahami hubungan antara gaya hidup sehari-hari dan kesehatan bumi.

3. Penanaman Pohon dan Penguatan Ekologi Lokal

Aksi menanam pohon dilakukan di beberapa titik sebagai upaya menjaga keseimbangan lingkungan. Penanaman ini menjadi simbol harapan—bahwa dari tanah yang sama, masyarakat dengan latar belakang berbeda dapat tumbuh bersama merawat kehidupan.

4. Literasi Ekologi dan Kebhinnekaan

Melalui diskusi, kelas belajar, dan penulisan buku, Eco Bhinneka juga memperkuat literasi masyarakat tentang hubungan antara kebhinnekaan dan kelestarian alam. Buku Jejak Eco Bhinneka di Ujung Timur Jawa menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan praktik baik yang telah dilakukan di Banyuwangi.

5. Kolaborasi Komunitas dan Generasi Muda

Eco Bhinneka melibatkan banyak elemen, mulai dari aktivis lingkungan, organisasi masyarakat, hingga generasi muda. Pendekatan ini penting agar gerakan merawat bumi tidak berhenti pada satu kelompok, tetapi menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.

Keterangan foto: Halaman belakang buku Jejak Eco Bhinneka di Ujung Timur Jawa

Merawat Kerukunan, Merawat Bumi

Apa yang tumbuh di Banyuwangi menunjukkan satu hal penting: menjaga lingkungan tidak bisa dilepaskan dari menjaga harmoni sosial. Ketika masyarakat saling menghargai perbedaan, mereka juga lebih mudah bersatu dalam merawat alam.

Pertemuan di Masjid Ahmad Dahlan malam itu menjadi simbol kecil dari semangat tersebut. Dalam suasana Ramadan yang penuh berkah, obrolan hangat antara pemerintah daerah dan pegiat lingkungan menegaskan bahwa masa depan bumi membutuhkan kerja bersama—kerja yang melampaui sekat agama, budaya, dan identitas.

(Zahrotul Janah)