
Ket. Foto : Para Peserta EBCC sedang Memainkan Boardgame Kebencanaan (Dok. Panitia EBCC (Diki)
Bandung – Boardgame tak lagi sekadar permainan di meja. Di tangan yang tepat, permainan dapat menjadi ruang belajar yang hidup, tempat tawa, diskusi, dan kesadaran tumbuh secara bersamaan. Pendekatan ini dibagikan dalam sesi Eco Bhinneka Campaigners Community (EBCC) yang diselenggarakan oleh Eco Bhinneka Muhammadiyah melalui program SMILE (Strengthening Youth Multifaith Initiative Leader on Climate Justice through Ecofeminism) di Universitas ‘Aisyiyah Bandung pada 23 Mei 2026.
Kegiatan ini menghadirkan Lindawati Sumpena selaku Managing Director PeaceGen yang selama ini mengembangkan pendidikan perdamaian melalui inovasi pembelajaran berbasis permainan. Sebanyak 20 peserta anak muda lintas iman dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias.
Fadhil Azhar Permana selaku Focal Point Jawa Barat menyampaikan bahwa Eco Bhinneka Campaigners Community (EBCC) dihadirkan sebagai ruang belajar dan kolaborasi bagi anak muda lintas iman untuk memperkuat kapasitas kampanye sosial dan lingkungan. “Melalui EBCC, kami ingin anak muda tidak hanya memahami isu toleransi dan keadilan iklim, tetapi juga mampu terlibat langsung dalam aksi nyata di komunitasnya masing-masing,” ujar Fadhil.
Ia juga menambahkan bahwa peserta didorong untuk menjadi juru kampanye yang mampu membangun narasi berdampak, memproduksi konten kreatif, hingga menginisiasi gerakan lingkungan yang dekat dengan masyarakat.
Sementara itu, Lindawati Sumpena menjelaskan bahwa boardgame menjadi salah satu media pembelajaran yang efektif karena mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih santai dan partisipatif. Menurutnya, isu-isu serius seperti lingkungan, perdamaian, dan kebencanaan dapat lebih mudah dipahami ketika dikemas melalui permainan.
“Kalau bicara soal sosial, lingkungan, atau perdamaian hanya lewat seminar dan ceramah, sering kali sulit menjangkau anak muda. Karena itu kami mencoba menggunakan media permainan agar peserta bisa belajar sambil terlibat langsung,” ungkap Linda.
Ia menambahkan bahwa boardgame bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga ruang untuk membangun diskusi, empati, kolaborasi, dan refleksi bersama mengenai persoalan sosial maupun lingkungan.

Ket. Foto : Peserta dalam sesi praktik memainkan boardgame (Dok. Diki)
Dalam sesi praktik, peserta memainkan boardgame bertema Bencana yang dirancang untuk mengenalkan kesiapsiagaan bencana, pentingnya menjaga lingkungan, serta membangun kolaborasi. Permainan dilakukan dalam kelompok kecil sehingga mendorong interaksi, diskusi, dan refleksi bersama antarpeserta.
Berbagai refleksi muncul setelah permainan berlangsung. Sejumlah peserta mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai sifat bencana yang tidak dapat diprediksi dan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Peserta lain juga menyoroti pentingnya pengelolaan sampah dan penghijauan sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana dan menjaga lingkungan.

Ket. Foto : Irfan Amali Saat Menyampaikan Materi (Dok. Diki)
Dalam kesempatan yang sama, Irfan Amali menekankan pentingnya menghadirkan pengalaman dalam sebuah kampanye sosial dan lingkungan. Menurutnya, pesan sederhana seperti ajakan menjaga kebersihan tidak lagi cukup efektif jika hanya disampaikan dalam bentuk tulisan atau imbauan semata.
“Tulisan seperti ‘jagalah kebersihan’ itu sudah tidak mempan kalau tidak ada pengalaman yang membuat orang merasa terlibat. Ketika orang terlibat langsung, ada pengalaman emosional yang membuat pesan lebih diingat,” ungkap Irfan.
Ia juga menambahkan bahwa kampanye yang kuat bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi mampu menciptakan pengalaman yang membangun keterlibatan dan kesadaran bersama.

Ket. Foto : Foto Bersama Peserta EBCC Dengan TIM Nasional SMILE Ecobhinneka Muhammadiyah
Melalui pendekatan ini, boardgame tidak hanya menjadi sarana bermain, tetapi juga medium pembelajaran yang membangun kesadaran, empati, dan kolaborasi dalam menghadapi isu lingkungan dan kebencanaan. Metode tersebut dinilai efektif karena menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan, partisipatif, dan mudah diterima lintas usia.
Tentang Program SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah
Eco Bhinneka Muhammadiyah saat ini tengah melaksanakan program Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism (SMILE), yaitu inisiatif untuk memperkuat kepemimpinan kaum muda lintas iman dalam menghadapi perubahan iklim melalui pendekatan keadilan gender dan ekofeminisme.
Program ini mendorong keterlibatan aktif generasi muda, terutama perempuan dan kelompok disabilitas, dalam membangun kesadaran, pengetahuan, serta aksi konkret untuk menghadapi krisis iklim. Salah satu wilayah implementasi utama program ini berada di Jawa Barat
Kegiatan Eco Bhinneka Muhammadiyah dapat diikuti melalui website ecobhinnekamuhammadiyah.org resmi dan media sosial Instagram @ecobhinneka
Narahubung :
0812-1991-8673 (Fadhil – Focal Poin Ecobhinneka Muhammadiyah Jawa Barat)
0823-1024-2162 (Media Ecobhinneka Muhammadiyah)


