“Naga Slay”: Eco Bhinneka membuka Kelas Siklus Hidup, Olahan Limbah, hingga Branding Produk Buah Naga

(Focal Point Eco Bhinneka Banyuwangi menyampaikan gagasan terkait kegiatan)

Suasana Balai Dusun Sumberjambe, Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi, terasa berbeda pada Sabtu, 27 September 2025. Sejak pagi, puluhan warga dari beragam organisasi dan komunitas lintas agama sudah berkumpul, menyatu dalam semangat belajar dan berbagi ilmu. Mereka datang bukan sekadar untuk mendengar materi, tetapi juga merajut kebersamaan lewat kegiatan bertajuk Kelas Siklus Hidup Buah Naga & Pelatihan Membuat Selai Kulit Buah Naga.

Kegiatan ini dibuka dengan sambutan hangat dari Zahrotul Janah, Focal Point SMILE Ecobhinneka, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas iman dalam menjaga lingkungan. Ia menyebut Desa Temurejo sebagai salah satu desa terpilih untuk program Ecobhinneka Muhammadiyah, sebuah inisiatif yang mendorong aksi nyata pelestarian alam dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Sementara itu, Kepala Desa Temurejo, Fuad Musyadad, S.IP., mengapresiasi kegiatan ini sebagai wujud nyata kebhinnekaan yang rukun dan produktif. Ia bahkan menyinggung rencana pengembangan agroforestri di desa, sebagai pilot project untuk ketahanan lingkungan dan ekonomi warga.

Materi pertama disampaikan oleh I Wayan Misdiyanto, seorang praktisi sekaligus wirausaha buah naga yang sudah belasan tahun menekuni komoditas ini. Dengan penuh semangat, ia berbagi pengalaman betapa buah naga mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat Temurejo. Mulai dari teknik persiapan lahan, pemilihan benih, hingga strategi pemupukan, semua dijelaskan dengan sederhana namun penuh makna. “Jangan pernah meremehkan profesi petani,” tegasnya, “karena dari tanah inilah kita bisa menjaga ketahanan pangan sekaligus menata masa depan yang cerah.”

Sesi diskusi berlangsung hidup. Salah satu peserta, Abel dari komunitas Peradah, menyoroti tantangan pasar ketika produksi buah naga melimpah. Ia menekankan pentingnya inovasi produk agar buah naga tidak hanya dijual segar, tapi juga bisa diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah. Masukan ini seolah menyambung dengan materi kedua, pelatihan membuat selai kulit buah naga oleh Nina Rosita, A.Md., dari Departemen Ekonomi dan Kewirusahaan PDNA Banyuwangi. Lewat demonstrasi yang sederhana, Nina menunjukkan bahwa limbah kulit buah naga pun bisa disulap menjadi selai manis dengan nilai jual tinggi. “Buah yang tak layak jual jangan dibiarkan berserakan. Kita bisa olah jadi produk bernilai,” ujarnya sambil mengaduk adonan selai.

(Materi sekaligus praktek pembuatan selai kulit dan buah naga)

Peserta tampak antusias mencoba, mencatat, bahkan sudah membayangkan peluang usaha baru dari dapur rumah masing-masing. Mereka belajar bahwa selai bukan hanya soal rasa, tetapi juga peluang ekonomi kreatif yang bisa menopang keluarga. Nina juga membuka wawasan tentang jejaring usaha, perizinan produk, hingga peluang ekspor melalui UKM Center dan asosiasi pengusaha olahan di Banyuwangi.

Menjelang sore, kegiatan ditutup dengan kesan dan pesan dari peserta. Mulai dari Abel hingga ibu-ibu PKK, dari pemuda Katolik hingga Fatayat, semuanya menyuarakan harapan yang sama: kegiatan semacam ini perlu dilanjutkan dan diperluas. Ada yang ingin lebih banyak belajar inovasi produk, ada yang berharap lahir festival buah naga di Sumberjambe, ada pula yang menekankan pentingnya regenerasi petani muda. “Semoga kaum muda tidak ragu bercocok tanam, karena dari tanah kita bisa menciptakan masa depan,” tutur salah satu peserta penuh optimisme.

(Peserta menyampaikan ide, gagasan, dan pengembangan dari kegiatan)

Hari itu, Balai Dusun Sumberjambe bukan hanya menjadi tempat pelatihan, melainkan juga panggung kebersamaan. Dari buah naga, warga belajar tentang ketekunan, dari kulit buah naga mereka menemukan nilai tambah, dan dari kebersamaan lintas komunitas mereka menemukan kekuatan untuk menjaga alam sekaligus menguatkan ekonomi desa. Sebuah kisah sederhana, tetapi mengalir alami dan penuh makna: bahwa dari sebuah buah, harapan untuk masa depan bisa tumbuh bersama.

Pelatihan membuat selai kulit buah naga di Balai Dusun Sumberjambe semakin menarik ketika para peserta tidak hanya belajar mengolah, tetapi juga diajak memahami pentingnya nilai tambah melalui kemasan. Setelah selai selesai dimasak, hasilnya dikemas dalam botol kaca sederhana. Namun, fasilitator tidak berhenti sampai di situ. Peserta kemudian diberi tantangan untuk merancang desain branding produk selai buah naga mereka.

(Branding dan desain produk dari Marco – Pemuda Hindu)

Suasana menjadi lebih seru ketika ide-ide kreatif mulai bermunculan. Dari sekadar membayangkan logo hingga membuat nama produk, diskusi berlangsung hangat. Tantangan itu akhirnya dijawab oleh Marco, pemuda Hindu dari komunitas Peradah. Dengan penuh semangat, ia memperkenalkan konsep branding bernama “Naga Slay”. Tidak hanya memberi nama, Marco (Pemuda Hindu) juga membuat desain stiker untuk botol selai yang mencerminkan semangat muda, keberanian berinovasi, dan kebersamaan lintas komunitas.

Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan, menandai bahwa pelatihan ini bukan sekadar memasak, tetapi juga membuka cakrawala baru tentang bagaimana produk lokal bisa naik kelas dengan kemasan dan identitas yang kuat. Dari dapur sederhana, warga Sumberjambe belajar bahwa inovasi, kreativitas, dan kolaborasi adalah kunci agar buah naga benar-benar menjadi komoditas yang berdaya saing.

(Snackbox guna ulang dan desain kampanye ramah lingkungan ala Eco Bhinneka Banyuwangi)

Yang tak kalah menarik, panitia merancang kegiatan ini dengan konsep ramah lingkungan. Konsumsi disajikan menggunakan snack box guna ulang bertuliskan pesan ramah bumi. Makan siang disediakan prasmanan agar peserta bisa mengambil secukupnya. Minuman disajikan dengan gelas, tanpa botol plastik sekali pakai. Tak disangka, usai makan siang seluruh peserta secara spontan mencuci piring masing-masing. “Pemandangan seperti ini jarang sekali ditemui. Kami terharu,” ungkap salah satu panitia.

Penulis : Zahrotul Janah