
Keterangan: Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani, hadir sebagai pembicara dalam forum Srawung Carito yang diselenggarakan Eco Bhinneka Nasyiatul Aisyiyah Surakarta pada Minggu (27/4/2025) di Pendopo Alun-Alun Surakarta.
Surakarta — Pemerintah Kota Surakarta menegaskan komitmennya dalam mendorong penerapan ekonomi sirkular sebagai bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan. Hal ini disampaikan oleh Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani, dalam forum Srawung Carito yang menjadi bagian dari rangkaian acara Eco Fun Run, yang diselenggarakan oleh Eco Bhinneka Muhammadiyah–Nasyiatul Aisyiyah Surakarta, Minggu (27/4/2025).
Dalam sambutannya, Astrid menyebut bahwa pelestarian lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Menurutnya, isu keberlanjutan harus menjadi tanggung jawab bersama yang melibatkan individu, komunitas, dan lembaga pendidikan. “Hari ini kita tidak hanya membahas produk daur ulang, tetapi juga melihat keberlanjutan dari berbagai aspek kehidupan. Menjaga lingkungan adalah tugas kolektif,” ujarnya.
Astrid menyoroti pentingnya kehadiran generasi muda dalam forum tersebut sebagai pertanda baik. “Melihat anak-anak muda hadir di sini memberi harapan bahwa mereka mulai peduli dan ingin menjadi bagian dari solusi untuk masa depan umat manusia,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih menghargai kekayaan alam Indonesia. Ia membandingkan kondisi lingkungan Indonesia yang subur dengan negara-negara lain yang jauh lebih kering. “Di wilayah bumi utara, melihat matahari saja membuat mereka bersyukur. Kita di negeri tropis yang kaya, tapi sering kali masih mengeluh. Ini adalah hukum sebab-akibat: kalau kita tidak menjaga alam hari ini, maka dampaknya akan kita rasakan nanti,” tegasnya.

Keterangan: Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani, hadir sebagai pembicara dalam forum Srawung Carito yang diselenggarakan Eco Bhinneka Nasyiatul Aisyiyah Surakarta pada Minggu (27/4/2025) di Pendopo Alun-Alun Surakarta.
Lebih lanjut, Astrid menekankan bahwa ekonomi sirkular bukan sekadar teori, melainkan solusi konkret yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan praktik pengelolaan limbah dari sektor UMKM dan perhotelan, seperti pengolahan sisa makanan dan limbah tekstil menjadi produk baru yang bernilai ekonomi. “Kita sering lupa bertanya: ke mana sisa produksinya? Kalau tidak dimanfaatkan, itu artinya kita sedang membuang potensi ekonomi,” tuturnya.
Tiga pendekatan utama ekonomi sirkular juga ia jabarkan, yaitu: meminimalisasi sampah dan polusi; mengoptimalkan sirkulasi produk dan material; serta meregenerasi alam. Beberapa contoh nyata yang disampaikan termasuk pembuatan tas dari koran bekas, sofa dari ban bekas, serta program penanaman sejuta pohon matoa di Indonesia.
Ia juga memuji kiprah komunitas Carefood di Solo Raya yang telah menyelamatkan hampir 40 ton makanan berlebih dan mendistribusikannya secara tepat. “Inilah langkah nyata dalam mengurangi pemborosan dan menjaga keberlanjutan,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Astrid menyampaikan harapan agar semangat kolaboratif lintas sektor terus tumbuh. “Ketika komunitas, pemerintah, akademisi, dan masyarakat bersatu, ekonomi sirkuler bukan hanya bisa diwujudkan, tapi bisa menjadi kekuatan utama untuk masa depan yang lestari,” pungkasnya.

Keterangan: Foto bersama Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani, pada Minggu (27/4/2025) di Pendopo Alun-Alun Surakarta.


