
Keterangan Foto : Peserta lintas iman dan pegiat lingkungan berfoto bersama usai Materi Tematik 3 “Ekoteologi : Menggali Spirit Kerukunan dan Pelestarian Lingkungan Lintas Iman”
Jakarta, 17 Oktober 2026 — Pelestarian lingkungan dapat menjadi ruang bersama untuk memperkuat kerukunan antarumat beragama. Gagasan ini dibahas dalam Sesi Tematik 3 bertajuk “Ekoteologi: Menggali Spirit Kerukunan dan Pelestarian Lingkungan Lintas Iman” pada hari ini, dalam rangkaian Workshop Generasi Muda Lintas Iman: Mewujudkan Keadilan Ekologi dan Sosial yang berlangsung pada 16–18 Oktober 2026.
Sesi ini menghadirkan Ahmad Jojon Novandri, Tenaga Ahli Kementerian Agama, dan Hening Parlan, Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah sekaligus Ketua Lentera Hijau Indonesia.
Ekoteologi menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan tanggung jawab manusia dalam merawat alam. Melalui perspektif lintas iman, peserta diajak melihat nilai moral dan spiritual sebagai landasan untuk membangun gerakan lingkungan yang inklusif.

Keterangan Foto : Ahmad Jojon Novandri menyampaikan materi dalam Workshop Generasi Muda Lintas Iman: Mewujudkan Keadilan Ekologi dan Sosial.
Ahmad Jojon Novandri menekankan pentingnya membangun jejaring dan kolaborasi lintas komunitas, lembaga, serta generasi untuk memperkuat upaya keberlanjutan.
“Networking for Sustainability bukan sekadar membangun jaringan, melainkan memperkuat kolaborasi lintas komunitas, lembaga, dan generasi untuk menciptakan dampak keberlanjutan yang nyata bagi peradaban. Melalui kerja bersama, nilai-nilai keagamaan dapat menjadi landasan untuk merawat lingkungan sekaligus memperkuat kerukunan di tengah keberagaman,” ujar Ahmad Jojon.
Menurutnya, kepercayaan di tengah komunitas dan nilai-nilai keagamaan dapat menjadi modal sosial untuk menggerakkan masyarakat dalam merespons persoalan ekologis.

Keterangan Foto : Hening Parlan menyampaikan materi pada Workshop Generasi Muda Lintas Iman: Mewujudkan Keadilan Ekologi dan Sosial
Senada dengan itu, Hening Parlan menegaskan bahwa komunitas keagamaan memiliki peran strategis dalam menghadapi krisis lingkungan melalui kepemimpinan moral dan aksi kolektif.
“Komunitas beragama bukan sekadar pihak yang terdampak oleh krisis lingkungan. Mereka adalah penggerak perubahan yang membawa kepemimpinan moral, kepercayaan komunitas, nilai-nilai spiritual, dan aksi kolektif untuk melindungi rumah kita bersama, yaitu bumi,” ujar Hening.
Ia menambahkan bahwa perjumpaan lintas iman dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk membangun kepercayaan, memperkuat kerukunan, dan mengembangkan aksi nyata bagi lingkungan serta masyarakat.
Melalui sesi ini, peserta diajak memahami bahwa merawat bumi merupakan tanggung jawab bersama yang melampaui batas keyakinan. Keberagaman iman dapat menjadi kekuatan untuk saling melengkapi dan mendorong inisiatif pelestarian lingkungan.
Tentang Acara
Workshop Generasi Muda Lintas Iman: Mewujudkan Keadilan Ekologi dan Sosial berlangsung pada 16–18 Oktober 2026 di Pusdiklat Tenaga Teknis Kementerian Agama, Ciputat, dengan diikuti 32 peserta. Kegiatan ini diselenggarakan bersama oleh Perkumpulan Perempuan Alumni Pendidikan Teologi di Indonesia (PERUATI) Jabodetabek, Mission21, Eco Bhinneka Muhammadiyah, Green Campus Blue Seminary (GCBS-STFT) Jakarta, Lentera Hijau Indonesia, dan Eco Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB).
Narahubung : Dinul Qoyimah : 0857-0103-5689


