Oleh: Fadila Syahril (Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah HALMAHERA SELATAN)
Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks, kita sering kali berbicara tentang pentingnya kebijakan, teknologi, atau pembangunan berkelanjutan. Namun, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian, yaitu bagaimana membangun kesadaran manusia sebagai fondasi utama perubahan. Kesadaran inilah yang menjadi inti dari ekoliterasi, sebuah proses memahami hubungan antara manusia dan lingkungan sekaligus menumbuhkan tanggung jawab untuk menjaganya.
Halmahera Selatan merupakan salah satu daerah yang menunjukkan mengapa kesadaran tersebut menjadi sangat penting. Sebagai wilayah kepulauan yang kaya akan keberagaman budaya dan agama, Halmahera Selatan memiliki modal sosial yang besar. Masyarakatnya telah lama hidup berdampingan dalam kemajemukan. Sayangnya, keberagaman tersebut belum sepenuhnya menjadi kekuatan bersama untuk menghadapi persoalan lingkungan yang semakin nyata.

Doc. Tim Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Halmahera
Di berbagai kawasan pesisir, masyarakat menghadapi persoalan sampah laut, kerusakan ekosistem pantai, hingga tekanan akibat perubahan tata guna lahan dan aktivitas ekonomi. Gerakan pelestarian lingkungan memang sudah ada, tetapi masih berjalan sendiri-sendiri sesuai kelompok dan organisasi masing-masing. Sementara itu, relasi lintas iman di kalangan pemuda lebih sering diwujudkan dalam kegiatan seremonial daripada kolaborasi yang menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat.
Kondisi ini diperparah oleh rendahnya literasi lingkungan di kalangan generasi muda. Persoalan sampah, kerusakan pesisir, maupun krisis ekologis belum sepenuhnya dipandang sebagai tanggung jawab bersama. Ruang bagi pemuda untuk menjadi aktor perubahan, baik melalui advokasi maupun penyusunan rekomendasi kebijakan, juga masih sangat terbatas.
Hal serupa terjadi pada perempuan. Dalam banyak situasi, perempuan masih ditempatkan pada peran domestik sehingga keterlibatannya dalam isu lingkungan belum optimal. Padahal, kerusakan lingkungan dan ketimpangan gender merupakan dua persoalan yang saling berkaitan. Perspektif ekofeminisme menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan juga harus dibarengi dengan penguatan peran perempuan sebagai bagian dari solusi.
Berangkat dari realitas tersebut, penguatan ekoliterasi menjadi pendekatan yang relevan. Ekoliterasi bukan sekadar memberikan pengetahuan mengenai lingkungan, melainkan membangun cara berpikir, sikap, dan kebiasaan baru yang mendorong perubahan perilaku. Ketika dipadukan dengan kolaborasi lintas iman, ekoliterasi mampu menjadi ruang perjumpaan yang melampaui sekat agama dan organisasi.

Doc. Tim Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Halmahera
Pengalaman di Halmahera Selatan menunjukkan hal tersebut. Program yang memadukan pembelajaran mengenai krisis lingkungan, keadilan iklim, keadilan ekologis, dan ekofeminisme dengan kegiatan field trip berbasis observasi lapangan berhasil menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Peserta tidak hanya menerima materi di ruang kelas, tetapi juga menyaksikan langsung kondisi pesisir Bacan, Taman Zero Point, serta Tempat Pembuangan Akhir di Desa Marabose. Mereka diajak mengidentifikasi persoalan, mendiskusikan solusi, hingga menyusun policy brief sebagai rekomendasi bagi pemerintah daerah.
Yang menarik, perubahan pertama justru muncul dari kebiasaan-kebiasaan sederhana. Peserta mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tumbler dalam aktivitas sehari-hari, dan lebih peduli terhadap pengelolaan sampah. Kebiasaan kecil ini mungkin tampak sepele, tetapi sesungguhnya menjadi indikator penting bahwa perubahan perilaku telah mulai terjadi.
Perubahan yang lebih bermakna terlihat ketika keberanian untuk melakukan advokasi mulai tumbuh. Salah satu peserta, seorang siswa sekaligus kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), mengaku sebelumnya tidak pernah berani menegur orang yang membuang sampah sembarangan. Setelah mengikuti program, ia memberanikan diri mengingatkan seseorang yang membuang sampah di bantaran sungai karena menyadari dampaknya terhadap lingkungan. Keberanian sederhana itu ternyata menginspirasi teman-temannya untuk ikut menjaga kebersihan dan saling mengingatkan.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak selalu lahir dari tindakan besar. Perubahan justru sering dimulai dari keberanian seseorang untuk melakukan hal yang benar, kemudian menginspirasi lingkungan di sekitarnya.
Dampak program juga mulai meluas ke sekolah dan organisasi kepemudaan. Penggunaan tumbler menjadi kebiasaan baru, kesadaran mengurangi plastik perlahan meningkat, dan semakin banyak perempuan muda lintas iman yang terlibat dalam diskusi maupun advokasi lingkungan. Bahkan, peserta berhasil menyusun policy brief yang kemudian didiseminasikan kepada Bupati Halmahera Selatan, Ketua PKK, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup. Dari proses dialog tersebut lahir gagasan untuk menghidupkan kembali penggunaan gaba, keranjang bambu tradisional, sebagai alternatif pengurangan plastik berbasis kearifan lokal.
Tentu, perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Pada awal pelaksanaan, sempat muncul anggapan bahwa program merupakan agenda rekrutmen organisasi tertentu karena penyelenggaranya berasal dari Muhammadiyah dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Situasi ini menjadi pelajaran penting bahwa membangun gerakan lintas iman membutuhkan komunikasi yang terbuka, inklusif, dan mampu menumbuhkan rasa saling percaya. Ketika tujuan bersama diletakkan di atas identitas kelompok, kolaborasi ternyata dapat terbangun dengan baik.
Pengalaman tersebut memberikan satu pelajaran penting. Persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dengan pembangunan fisik ataupun kebijakan pemerintah. Perubahan juga membutuhkan masyarakat yang memiliki kesadaran ekologis, mampu bekerja sama melintasi perbedaan, dan berani mengambil tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, investasi terbaik bagi masa depan lingkungan sesungguhnya bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun manusianya. Pemuda harus diberikan ruang untuk belajar, berdialog, berkolaborasi, dan menyampaikan gagasan kepada pemerintah. Perempuan perlu dilibatkan sebagai penggerak perubahan. Kolaborasi lintas iman juga harus terus diperkuat karena persoalan lingkungan tidak mengenal batas agama, suku, maupun organisasi.
Ke depan, berbagai langkah keberlanjutan perlu terus didorong, mulai dari mengawal policy brief hingga menjadi kebijakan daerah, menyelenggarakan pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga bagi perempuan, mengembangkan gerakan “Satu Siswa Satu Tumbler” di sekolah, hingga memperkuat aksi lingkungan berbasis komunitas. Langkah-langkah tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi justru dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah lahir perubahan yang besar.
Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya soal menyelamatkan alam, melainkan juga membangun solidaritas sosial. Pengalaman Halmahera Selatan menunjukkan bahwa ketika pemuda lintas iman dipertemukan dalam ruang belajar yang setara, mereka tidak hanya menjadi lebih peduli terhadap lingkungan, tetapi juga belajar memperkuat rasa saling percaya dan bekerja bersama. Di tengah berbagai tantangan ekologis yang semakin besar, kolaborasi seperti inilah yang perlu terus dirawat sebagai fondasi menuju masa depan yang lebih adil, lestari, dan berkelanjutan.
Editor : KD


