Kepemimpinan Berkelanjutan Dimulai dari Kaderisasi, Sistem, dan Kolaborasi

Keterangan: Peserta Pendidikan Khusus IMMawati Paripurna berdiskusi dalam kelompok untuk mengidentifikasi persoalan di komunitas, memetakan potensi, serta menyusun rencana aksi kepemimpinan perempuan yang berkelanjutan. (Foto oleh: Usman Mansur/ @ecobhinneka)

Kepemimpinan yang berkelanjutan tidak berhenti pada masa jabatan. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu menjalankan program, tetapi juga menyiapkan kader penerus, membangun sistem organisasi, dan meninggalkan dampak yang terus dirasakan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Dzikrina Farah Adiba, Program Manager Program SMILE (Strengthening Multifaith Youth Initiative on Climate Justice through Ecofeminism) Eco Bhinneka Muhammadiyah, saat menjadi narasumber dalam Pendidikan Khusus IMMawati (Diksuswati) Paripurna yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) 27 Juni 2026 di PPSDM Kemendikdasmen.

Pada sesi materi “Strategi Kepemimpinan Perempuan dalam Mengawal Isu Keberlanjutan”, Farah mengajak peserta memaknai kepemimpinan sebagai proses membangun ekosistem perubahan yang mampu bertahan lintas generasi.

Mengawali sesi, Farah mengajak peserta melakukan refleksi sederhana tentang makna kepemimpinan.

“Kepemimpinan yang berkelanjutan bukan hanya tentang menjadi pemimpin, tetapi juga tentang menumbuhkan pemimpin baru, membangun sistem, dan meninggalkan dampak yang terus dirasakan masyarakat,” ungkapnya.

Keterangan: Dzikrina Farah Adiba, Program Manager SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah, menyampaikan materi “Strategi Kepemimpinan Perempuan dalam Mengawal Isu Keberlanjutan” pada Pendidikan Khusus IMMawati Paripurna. (Foto oleh: Usman Mansur/ @ecobhinneka)

Menurut Farah, organisasi sering kali berfokus pada pergantian kepemimpinan, tetapi lupa memastikan bahwa pengetahuan, pengalaman, dan budaya organisasi terus diwariskan kepada kader berikutnya. Padahal, keberhasilan organisasi tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, melainkan dari kemampuannya menjaga keberlanjutan gerakan.

Berangkat dari pengalamannya sebagai Wakil Sekretaris Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP ‘Aisyiyah serta mengelola program di Eco Bhinneka Muhammadiyah, Farah menyoroti pentingnya kaderisasi yang dirancang secara berlapis. Kehadiran kader yang berpengalaman bersama kader-kader muda dalam satu struktur organisasi menjadi ruang pembelajaran yang efektif untuk menjaga estafet kepemimpinan.

Selain kaderisasi, ia juga menekankan pentingnya membangun sistem organisasi yang mampu mendokumentasikan sekaligus menyebarluaskan praktik-praktik baik.

“Banyak organisasi bekerja sangat keras menjalankan program, tetapi pembelajarannya berhenti di laporan kegiatan. Padahal, pengalaman itu perlu ditulis, didokumentasikan, dan dibagikan agar bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain,” ujarnya.

Menurutnya, praktik baik yang berhasil di satu wilayah dapat direplikasi di wilayah lain dengan menyesuaikan karakteristik lokal. Karena itu, budaya menulis, mendokumentasikan, dan mendiseminasikan pengetahuan perlu menjadi bagian dari penguatan organisasi.

Dalam sesi tersebut, Farah juga membagikan pembelajaran dari Program SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism) yang dijalankan Eco Bhinneka Muhammadiyah di berbagai daerah di Indonesia. Program ini membangun ekosistem kolaborasi melalui penguatan ekoliterasi, eco sociopreneurship, advokasi, dan kampanye.

Berbagai praktik baik tersebut, menurut Farah, menunjukkan bahwa keberlanjutan hanya dapat diwujudkan ketika kelompok muda memiliki ruang untuk memimpin, organisasi membangun kaderisasi, dan berbagai pihak terlibat dalam kolaborasi.

Sebagai bagian dari sesi praktik, peserta kemudian dibagi ke dalam lima kelompok berdasarkan tema yang diminati, yaitu kepemimpinan IMMawati, aktivisme media dan strategi kampanye, penguatan ekonomi dan pemberdayaan, penguatan sistem organisasi, serta isu gender, kesetaraan, dan inklusi sosial.

Melalui diskusi kelompok, peserta didampingi menyusun rencana aksi. Mereka mengidentifikasi persoalan di komunitas masing-masing, memetakan kelompok yang terdampak, mengenali potensi yang dimiliki, menentukan mitra kolaborasi, menyusun aksi yang realistis, merumuskan perubahan yang ingin diwujudkan, hingga memikirkan strategi agar program tetap berjalan meskipun kepengurusan berganti.

Seluruh kelompok kemudian mempresentasikan gagasan yang telah disusun dan memperoleh masukan untuk memperkuat aspek kaderisasi, kolaborasi, serta keberlanjutan program.

Menanggapi materi yang disampaikan, Ketua Bidang IMMawati DPP IMM, Sumarni, menyampaikan apresiasi atas perspektif yang dibagikan Eco Bhinneka Muhammadiyah. Menurutnya, materi tersebut memberikan cara pandang baru bahwa gerakan organisasi yang berdampak harus dibangun melalui perencanaan yang matang, pemetaan kondisi, dan strategi yang terukur.

“Semangat memang merupakan modal awal yang penting. Seorang Immawati harus mampu melihat persoalan di sekitarnya, memetakan akar masalah, lalu menyusun solusi yang realistis, berkelanjutan, dan berdampak bagi masyarakat,” ujar Sumarni.

Keterangan: Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan rencana aksi yang telah disusun, disertai masukan untuk memperkuat aspek kaderisasi, kolaborasi, dan keberlanjutan program. (Foto oleh: Usman Mansur/ @ecobhinneka)

Ia berharap pembelajaran tersebut dapat menginspirasi kader-kader IMMawati untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan membangun gerakan yang lebih terarah, inovatif, serta responsif terhadap berbagai persoalan sosial, lingkungan, dan kemanusiaan.

Menutup sesi, Farah mengingatkan bahwa tidak ada organisasi yang mampu menciptakan perubahan sendirian. Setiap inisiatif perlu diawali dengan pemetaan para pihak untuk mengidentifikasi mitra strategis yang dapat diajak berkolaborasi, baik dari lingkungan Muhammadiyah maupun dari unsur pemerintah, media, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan dunia usaha.

“Kita punya kekuatan dan sumber daya berupa jejaring para pihak. Maka penting untuk memetakan para pihak serta mengajak mereka berkolaborasi sejak awal perencanaan program. Ketika kita mengetahui siapa yang memiliki kepentingan, sumber daya, dan pengaruh, maka peluang sebuah program untuk terus hidup akan semakin besar,” pungkasnya.

Melalui forum ini, Eco Bhinneka Muhammadiyah mendorong lahirnya kader-kader perempuan yang tidak hanya mampu menyelenggarakan kegiatan, tetapi juga membangun sistem, memperkuat kaderisasi, mendiseminasikan pengetahuan, dan merancang kolaborasi yang menghasilkan perubahan berkelanjutan bagi masyarakat.

Keterangan: Foto bersama menjadi penutup sesi sekaligus simbol semangat bersama untuk membangun kepemimpinan perempuan yang tidak hanya melahirkan program, tetapi juga kader, sistem, dan perubahan yang berkelanjutan. (Foto oleh: Usman Mansur/ @ecobhinneka)