
Keterangan gambar: Poster ebinar bertema “Pelestarian Lingkungan Hidup dalam Era Literasi Digital: Dimulai dari Keluarga” 13 Juni 2026.
Jakarta — Di tengah meningkatnya tantangan krisis lingkungan, keluarga kembali ditegaskan sebagai ruang paling awal untuk membangun kesadaran pelestarian lingkungan hidup di era digital. Gagasan ini mengemuka dalam Webinar bertema “Pelestarian Lingkungan Hidup dalam Era Literasi Digital: Dimulai dari Keluarga” yang diselenggarakan oleh Komisi GerMasA GPIB Sumber Kasih DKI Jakarta bekerja sama dengan Eco Bhinneka Muhammadiyah pada Sabtu, 13 Juni 2026, dan diikuti 55 peserta dari Jemaat GPIB Sumber Kasih serta peserta dari berbagai komunitas.
Kegiatan ini menghadirkan Bernhard Willem Pattinasarany (Director and Chairman of the Board of Executives Indonesian Working Group on Forest Finance/IWGFF) dan Triningsih (Program and Finance Coordinator Eco Bhinneka Muhammadiyah) sebagai narasumber.
Dalam sambutannya, Pnt. Poltak Immanuel Mangasi Sibuea, Ketua II Majelis Jemaat GPIB Sumber Kasih, menegaskan pentingnya penguatan Eco Church dari tingkat individu hingga komunitas. Ia menekankan bahwa di era digital, pesan pelestarian lingkungan dapat disebarkan lebih luas dan menjadi gerakan kolektif berbasis iman. “Lingkungan hidup adalah ciptaan Tuhan, sehingga kita terpanggil untuk ikut merawat ciptaan-Nya,” ujarnya.
Dalam paparannya, Bernhard Willem Pattinasarany menyoroti krisis lingkungan yang semakin kompleks akibat deforestasi, alih fungsi lahan, serta lemahnya tata kelola lingkungan. Ia menekankan bahwa berbagai kerusakan ekologis merupakan bentuk pengulangan krisis yang berdampak luas bagi kehidupan manusia. “Tragedi lingkungan harus kita lihat sebagai upaya melawan lupa. Dampaknya nyata, mulai dari krisis air hingga bencana alam,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya transformasi pendekatan melalui ekoteologi dalam gerakan Eco Church atau Gereja Ramah Lingkungan (GRL), yang mendorong gereja berperan dalam advokasi, pendampingan masyarakat terdampak, serta aksi berbasis jemaat.

Keterangan tangkapan layar: Bernhard Willem Pattinasarany membagikan strategi gerakan advokasi gereja ramah lingkungan
Sementara itu, Triningsih memperkenalkan Eco Bhinneka Muhammadiyah sebagai unit program di bawah koordinasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang berfokus pada upaya merawat kerukunan antarumat beragama melalui pendekatan lingkungan hidup, keadilan iklim, dan pembangunan masyarakat yang inklusif. Menurutnya, tantangan lingkungan hidup yang semakin kompleks memerlukan kolaborasi berbagai pihak, termasuk kerja sama lintas iman yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Ia menjelaskan bahwa Eco Bhinneka Muhammadiyah telah mengembangkan berbagai inisiatif, antara lain Program Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA) untuk memperkuat kolaborasi lintas agama, Program Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism (SMILE) yang mendorong kepemimpinan muda lintas iman dalam isu keadilan iklim, Program GreenAbility yang memperluas keterlibatan kelompok difabel dalam aksi lingkungan, serta Program 1000 Cahaya Muhammadiyah yang mendukung efisiensi dan transisi energi di sekolah, pesantren, masjid, dan komunitas Muhammadiyah.
Dalam kesempatan tersebut, Triningsih juga menekankan bahwa literasi digital memiliki peran penting dalam mendukung gerakan lingkungan hidup. Menurutnya, literasi digital membantu masyarakat mengakses informasi yang akurat, mencegah hoaks lingkungan, memperluas kampanye, mendorong partisipasi publik, mendukung pengambilan keputusan berbasis data, serta menginspirasi perubahan perilaku.
“Perubahan besar selalu dimulai dari rumah,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa aksi sederhana keluarga seperti menghemat listrik, mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah, dan menanam pohon dapat menjadi cerita inspiratif yang mendorong lebih banyak orang untuk terlibat dalam pelestarian lingkungan.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa kampanye lingkungan yang efektif perlu mengangkat kisah nyata, didukung visual yang autentik, data yang mudah dipahami, serta ajakan aksi yang jelas sehingga mudah dibagikan dan ditiru oleh masyarakat luas.

Keterangan tangkapan layar: Triningsih membagikan tips menemukan sudut pandang menarik dalam aksi lingkungan di rumah dan keluarga.
Dalam sesi diskusi, Pdt. Dea Pieta Runtunuwu, salah seorang peserta webinar, menyoroti dampak deforestasi dan ekspansi perkebunan yang menyebabkan krisis air bersih di sejumlah wilayah pedalaman. Menanggapi hal tersebut, Bernhard Willem Pattinasarany menjelaskan bahwa krisis air merupakan salah satu dampak langsung perubahan tata guna lahan yang tidak terkendali. “Ketika konsesi dan alih fungsi lahan tidak terkendali, daya dukung lingkungan, termasuk ketersediaan air, akan sangat terdampak. Karena itu, penguatan masyarakat lokal menjadi sangat penting,” ujarnya.
Peserta webinar lainnya, Brandon J. Frederic dari Sektor VII GPIB Sumber Kasih, menilai kegiatan ini memperkuat kesadaran akan pentingnya keterlibatan gereja dalam aksi kolektif menjaga lingkungan. Menurutnya, literasi digital juga berperan penting dalam memperluas kesadaran publik dan mendorong terwujudnya keadilan iklim.
Moderator webinar, Eugene Marionaldi, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi penguatan gerakan berbasis jemaat. “Ini menjadi sarana kami untuk studi banding. Ada sistem edukasi yang jelas, mulai dari tahap sadar, penguatan kapasitas, hingga aksi bersama,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa berbagai program yang telah dijalankan Eco Bhinneka Muhammadiyah dapat menjadi contoh dalam memperkuat edukasi lingkungan di gereja.


