Pertemuan Nasional ToPP Perkuat Koordinasi dan Pembelajaran Antar Mitra

Keterangan foto: Peserta Pertemuan Nasional ToPP berfoto bersama di sela kegiatan yang berlangsung di Bandung.

Bandung, 16 Juni 2026 – Eco Bhinneka Muhammadiyah bersama sembilan mitra nasional WWF Indonesia menghadiri Pertemuan Nasional Monitoring, Evaluation, and Learning (MEL) Kuartal 4, Review Annual Work Plan (AWP) FY27, dan Persiapan Annual Report FY26 Project Together for People & Planet (ToPP) yang diselenggarakan di Bandung, Selasa (16/6).

Pertemuan ini menjadi ruang refleksi dan pembelajaran bersama bagi para mitra untuk meninjau capaian program sepanjang FY26, berbagi praktik baik, mengidentifikasi tantangan di lapangan, serta menyusun langkah strategis untuk memperkuat implementasi program pada tahun berikutnya.

Dalam sambutannya, Ratna Dewi, National Project Coordinator Together for People and Planet (ToPP) WWF Indonesia, menegaskan pentingnya pembelajaran bersama dalam pelaksanaan program. Ia mengibaratkan seluruh mitra sebagai roda-roda yang saling terhubung dan bergerak bersama menuju tujuan yang sama.

“Kita adalah jaringan roda yang bergerak bersama-sama. Ketika satu bergerak, semuanya bergerak. Pembelajaran dari mitra lokal akan kita bagi bersama-sama. Monitoring, evaluasi, dan pembelajaran adalah bagian integral dari manajemen proyek untuk melihat apa yang berhasil, apa yang belum berhasil, dan perubahan apa yang telah terjadi,” ujarnya.

Ratna juga menekankan bahwa ukuran keberhasilan program tidak hanya terletak pada banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi pada perubahan dan dampak yang dihasilkan bagi masyarakat dan lingkungan.

“Yang terpenting bukan banyaknya kegiatan, tetapi seberapa besar perubahan yang dihasilkan. Anggaran yang dikelola harus mampu menciptakan perubahan yang nyata, sehingga nilai dan manfaat program benar-benar dapat dirasakan,” tambahnya.

Keterangan foto: Ratna Dewi, National Project Coordinator ToPP WWF Indonesia, menyampaikan sambutan pada Pertemuan Nasional ToPP.

Senada dengan hal tersebut, Head of Policy and Advocacy WWF Indonesia, Diah Suradiredja, menyampaikan bahwa ToPP merupakan program yang memiliki karakteristik khusus karena menempatkan aspek konservasi sebagai benang merah yang menghubungkan seluruh kegiatan para mitra.

“Bersama sepuluh mitra nasional, kita ingin melihat bagaimana nilai-nilai konservasi tercermin dalam implementasi program. Capaian yang diraih masing-masing mitra adalah capaian bersama dalam ToPP,” ungkapnya.

Pada sesi presentasi capaian program, masing-masing mitra nasional memaparkan perkembangan kegiatan hingga kuartal keempat FY26, termasuk integrasi nilai-nilai ToPP seperti Human Rights-Based Approach (HRBA), Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), Equitable Partnership, dan Inclusive Conservation.

Mewakili Eco Bhinneka Muhammadiyah, Intan Mustikasari selaku Program Manager GreenAbility memaparkan capaian program yang telah dijalankan di Pontianak, Bojonegoro, dan Manokwari. Menurutnya, GreenAbility tidak hanya berupaya memperkuat aspek konservasi lingkungan, tetapi juga memastikan kelompok rentan, khususnya kelompok difabel dan perempuan, terlibat secara aktif dalam setiap proses perubahan.

“Pembelajaran terbesar yang kami peroleh adalah bahwa konservasi dan inklusi sosial tidak bisa dipisahkan. Ketika masyarakat, termasuk kelompok difabel dan perempuan, diberikan ruang untuk berpartisipasi dan memimpin, dampak program menjadi lebih kuat dan berkelanjutan,” ujar Intan.

Keterangan foto: Intan Mustikasari, Program Manager GreenAbility Eco Bhinneka Muhammadiyah, mempresentasikan capaian program hingga Kuartal 4 FY26.

Di Pontianak, GreenAbility mengembangkan pengelolaan perkebunan kopi berbasis konservasi dengan melibatkan kelompok difabel dalam berbagai tahapan, mulai dari produksi hingga pengembangan produk turunan seperti totebag atau tas guna ulang. Pendekatan ini tidak hanya mendukung pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih inklusif.

Sementara itu di Bojonegoro, program difokuskan pada peningkatan kapasitas perempuan dan kelompok difabel melalui pelatihan keterampilan hijau berbasis ekonomi sirkular. Berbagai pelatihan yang diberikan dirancang sesuai dengan kebutuhan pasar sehingga dapat mendorong lahirnya peluang usaha yang berkelanjutan dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.

Adapun di Manokwari, GreenAbility mendorong penguatan pendidikan konservasi melalui pengembangan Kurikulum Konservasi yang terintegrasi dan inklusif. Kurikulum ini menggabungkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), pembelajaran berbasis riset (research-based learning), dan pembelajaran berbasis pemecahan masalah (problem-based learning), sehingga mendorong peserta didik untuk berpikir kritis sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.

“Melalui pengalaman di tiga wilayah ini, kami melihat bahwa upaya konservasi akan lebih efektif ketika dikembangkan bersama masyarakat dan disesuaikan dengan konteks lokal. Karena itu, kami terus mendorong lahirnya model-model pembelajaran, pemberdayaan ekonomi, dan pengorganisasian komunitas yang inklusif serta dapat direplikasi di daerah lain,” tambah Intan.

Keterangan foto: Intan Mustikasari memimpin sesi ice breaking sebelum presentasi dan diskusi dimulai.