Dari Daun Pisang dan Gelas Puluhan Tahun di Temurejo

Ket. Foto : Dokumentasi Pribadi Zahro

Saya percaya, merawat bumi tidak selalu lahir dari forum besar, seminar mewah, atau diskusi panjang yang penuh istilah akademik. Kadang, kepedulian itu justru tumbuh dari ruang-ruang kecil yang hangat dan sederhana. Dari rumah warga. Dari obrolan santai. Dari cara kita menyajikan makanan. Dari kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele.

Hari itu saya duduk di rumah Bu Indri di Dusun Sumberjambe, Temurejo, bersama teman-teman lintas agama dalam kegiatan inkubasi ecosociopreneurship selai buah naga. Tidak ada dekorasi mewah. Kami duduk lesehan di atas tikar hijau. Namun justru di ruang sederhana itu saya merasa sangat dekat dengan makna tentang keberlanjutan, toleransi, dan cinta terhadap bumi.

Teh hangat disajikan dalam gelas kaca yang mungkin usianya sudah puluhan tahun, tetapi masih tampak bersih dan terawat seperti baru. Gelas-gelas itu bukan barang mahal, tetapi menyimpan pesan penting tentang kebiasaan merawat dan menggunakan sesuatu selama mungkin. Di tengah budaya sekali pakai yang semakin mengakar, benda sederhana itu terasa seperti pengingat bahwa bumi tidak membutuhkan gaya hidup yang sempurna, melainkan kebiasaan yang lebih sadar.

Di sudut ruangan tersaji aneka kue tradisional tanpa bungkus plastik. Semua ditutup daun pisang yang aromanya begitu khas dan menenangkan. Tidak ada kresek hitam, tidak ada styrofoam, tidak ada sampah menumpuk setelah acara selesai. Sederhana sekali. Tetapi justru dari kesederhanaan itu saya sadar bahwa leluhur kita sebenarnya telah lama hidup lebih ramah lingkungan jauh sebelum istilah zero waste menjadi tren.

Saya membayangkan, berapa banyak sampah plastik yang bisa dikurangi jika lebih banyak ruang pertemuan kembali memakai cara-cara sederhana seperti itu.

Yang paling menghangatkan bukan hanya tehnya, tetapi suasana perjumpaannya. Kami datang dari latar belakang yang berbeda. Ada Muslim, Kristen, Hindu, dan berbagai komunitas anak muda lain. Namun hari itu tidak ada jarak. Tidak ada rasa canggung. Kami sibuk mengaduk selai buah naga bersama, berbagi cerita, tertawa, dan saling mendengarkan.

Saya merasa, toleransi paling tulus memang bukan yang sering dipidatokan, melainkan yang dirasakan dalam keseharian. Dalam duduk bersama tanpa saling curiga. Dalam makan dari wadah yang sama. Dalam kesediaan bekerja bersama menjaga bumi yang kita tinggali bersama.

Kadang kita terlalu sibuk membicarakan moderasi beragama di ruang-ruang formal, tetapi lupa menciptakan ruang perjumpaan yang hangat antar manusia. Padahal dari ruang-ruang kecil itulah empati tumbuh secara alami.

Begitu juga dengan isu lingkungan. Kita sering mendengarnya dalam bentuk angka-angka krisis iklim, emisi karbon, atau kerusakan alam. Namun di Temurejo hari itu, isu lingkungan terasa sangat dekat dan membumi. Ia hadir dalam keputusan sederhana untuk tidak menggunakan plastik sekali pakai. Hadir dalam pemanfaatan kulit buah naga agar tidak menjadi sampah. Hadir dalam kesadaran untuk menjaga pangan lokal melalui usaha kecil yang berkelanjutan.

Saya belajar bahwa mencintai bumi ternyata tidak selalu membutuhkan langkah heroik. Kadang cukup dimulai dengan merawat gelas lama agar tetap bisa digunakan. Membungkus makanan dengan daun pisang. Membawa tumbler sendiri. Atau duduk bersama orang-orang yang berbeda keyakinan sambil menikmati teh hangat tanpa menghasilkan banyak sampah.

Di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat, ruang kecil seperti itu terasa sangat grounding. Mengingatkan kita untuk kembali dekat dengan manusia, dekat dengan alam, dan dekat dengan nilai-nilai sederhana yang perlahan mulai hilang.

Dan mungkin memang dari ruang-ruang kecil seperti inilah harapan untuk bumi yang lebih baik akan tumbuh.

Penulis : Zahro