Menelusuri Nilai Harmoni di Pura Adhitya Jaya, Penutup Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah

Keterangan foto: Field Trip Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah ke Pura Adhitya Jaya Rawamangun, Jakarta Timur, pada 3 Mei 2026. (Foto oleh: Fajar Firmansyah/ @ecobhinneka)

Rangkaian kegiatan Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah ditutup melalui field trip ke Pura Adhitya Jaya Rawamangun, Jakarta Timur, pada 3 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran lintas iman bagi anak muda untuk memperdalam pemahaman tentang kerukunan, keberagaman, serta nilai-nilai lingkungan dalam tradisi agama Hindu.

Kegiatan diawali dengan sesi diskusi dan dialog bersama pemuka agama Hindu yang membahas pandangan ajaran Hindu tentang harmoni kehidupan. Dalam pengantar kegiatan, peserta muda lintas iman diajak untuk melihat bahwa perjumpaan antaragama penting untuk memperkuat saling pengertian di tengah masyarakat yang beragam.

“Kami ingin belajar bagaimana kawan-kawan Hindu memiliki konsep keberagaman dan kelestarian alam, sebagai bekal bagi anak muda ketika kembali ke komunitas masing-masing,” ujar Ahsan Jamet Hamidi, Kepala Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah.

Diskusi ini dihadiri dan diisi oleh sejumlah tokoh agama Hindu, yaitu Pinandita Ketut Wartika (Ketua PHDI Jakarta Timur), Made Sumadi Arta (Sekretaris SDHD Jakarta Timur), Putu Maharta Adijadnja (Ketua SDHD Jakarta Timur sekaligus Ex-Officio Ketua Pengurus Pura Adhitya Jaya Rawamangun), serta Pinandita Gde Wiyadnya (Sekretaris PHDI DKI Jakarta dan Ketua Pasraman Adhitya Jaya).

Dalam sesi dialog, para pemuka agama Hindu menjelaskan sejumlah konsep dasar dalam ajaran Hindu yang menjadi fondasi kehidupan, di antaranya karma phala sebagai hukum sebab-akibat dari setiap tindakan manusia, serta Tri Hita Karana yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Prinsip ini dipahami sebagai dasar etika dalam menjaga harmoni kehidupan.

“Di mana pun kita berada, pada dasarnya kita adalah saudara. Alam dan seluruh makhluk hidup juga bagian dari keluarga besar kehidupan,” ungkap salah satu pemuka agama Hindu.

Salah satu konsep yang juga diperkenalkan adalah Vasudhaiva Kutumbakam, yang menegaskan bahwa seluruh dunia pada dasarnya adalah satu keluarga besar. Nilai ini menekankan pentingnya persatuan, kedamaian, dan cara pandang yang inklusif dalam kehidupan sosial.

“Vasudhaiva Kutumbakam mengajarkan bahwa kita semua satu keluarga, sehingga tidak ada ruang untuk memandang orang lain sebagai pihak yang benar-benar berbeda,” jelas pemuka agama Hindu dalam sesi tersebut.

Keterangan foto: Sesi dialog dalam rangkaian acara Field Trip Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah ke Pura Adhitya Jaya Rawamangun, Jakarta Timur, pada 3 Mei 2026. (Foto oleh: Fajar Firmansyah/ @ecobhinneka)

Nilai tersebut kemudian diperdalam melalui tiga kerangka dasar ajaran Hindu, yaitu Tatwa (filsafat), Etika (susila), dan Upacara (ritual). Ketiganya menjadi dasar dalam membentuk cara berpikir, sikap, dan praktik keberagamaan umat Hindu dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penjelasan lanjutan, narasumber juga menekankan bahwa dalam ajaran Hindu, Tuhan diyakini hadir dalam diri setiap manusia. Karena itu, setiap tindakan tidak hanya berdampak pada orang lain, tetapi juga kembali kepada diri sendiri melalui hukum reinkarnasi atau kelahiran kembali.

“Setiap perbuatan akan kembali kepada diri kita sendiri. Hidup ini pada dasarnya adalah proses untuk memperbaiki diri,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa konsep reinkarnasi juga mengandung dimensi tanggung jawab moral, di mana tindakan yang menyakiti makhluk lain dipahami sebagai bagian dari siklus karma yang akan mempengaruhi perjalanan kehidupan berikutnya.

Keterangan foto: Made Suyasih, Manager Operasional Pura Adhitya Jaya Rawamangun, sedang memandu dan memberikan penjelasan kepada peserta Field Trip Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah 3 Mei 2026. (Foto oleh: Fajar Firmansyah/ @ecobhinneka)

Setelah sesi diskusi, peserta melanjutkan kegiatan dengan tur ke area Pura Adhitya Jaya Rawamangun. Mereka mendapatkan penjelasan mengenai struktur pura yang dipandu oleh Made Suyasih, Manager Operasional Pura Adhitya Jaya Rawamangun. Ia menjelaskan konsep Tri Mandala sebagai pembagian zonasi pura berdasarkan tingkat kesuciannya.

Tri Mandala terdiri dari Nista Mandala (area luar), Madya Mandala (area tengah), dan Utama Mandala (area paling suci). Konsep ini mengatur tata ruang sekaligus alur aktivitas spiritual umat, mulai dari ruang sosial, ruang persiapan, hingga ruang utama peribadatan sebagai pusat kesucian pura.

“Pura bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang sosial dan budaya bagi umat,” jelas Made Suyasih.

Keterangan foto: Peserta Field Trip Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah 3 Mei 2026 berkesempatan mengenal gerakan tari. (Foto oleh: Fajar Firmansyah/ @ecobhinneka)

Dalam kunjungan tersebut, peserta juga berkesempatan memasuki area pura dan mengikuti pengenalan gerakan tari sebagai bagian dari tradisi budaya Hindu. Aktivitas ini menjadi pengalaman langsung untuk memahami keterhubungan antara spiritualitas, seni, dan kehidupan sosial dalam masyarakat Hindu.

Keterangan foto: Peserta Field Trip Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah pada 3 Mei 2026 berkesempatan mengenal gerakan tari tradisional di Pura Adhitya Jaya Rawamangun. (Foto: Fajar Firmansyah / @ecobhinneka)

Kegiatan ini kemudian ditutup di Pura Adhitya Jaya Rawamangun sebagai penanda berakhirnya seluruh rangkaian Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan membawa pulang pengalaman pembelajaran lintas iman yang memperkuat peran anak muda dalam merawat kerukunan dan kelestarian lingkungan di komunitas masing-masing.

Keterangan foto: Peserta Field Trip Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah pada 3 Mei 2026 berkesempatan mengenal gerakan tari tradisional di Pura Adhitya Jaya Rawamangun. (Foto: Fajar Firmansyah / @ecobhinneka)