Soft Launching dan Diskusi Film “Namaku Perempuan” Perkuat Narasi Perempuan Penyemai Damai

Keterangan: Foto bersama seluruh peserta soft launching dan diskusi film dokumenter “Namaku Perempuan” JISRA Indonesia pada 19 November 2025 di kantor Islami.co.

Di ruang-ruang sunyi konflik, perempuan kerap bekerja tanpa sorotan—menjaga relasi, membuka dialog, dan merawat perdamaian melalui cara-cara sederhana. Kisah-kisah inilah yang dihadirkan dalam film dokumenter “Namaku Perempuan”, sebuah karya kolaboratif dalam kerangka JISRA (Joint Initiative for Strategic Religious Action) Indonesia.

Kegiatan ini merupakan joint activity JISRA Indonesia yang dilead oleh Fatayat NU Jawa Barat, serta didukung oleh Jaringan Gusdurian, Nasyiatul Aisyiyah, Eco Bhinneka Muhammadiyah, dan Institut Mosintuwu, untuk merekam pengalaman perempuan akar rumput dari berbagai daerah dalam menghadapi dan melampaui konflik.

Diangkat dari buku Perempuan-Perempuan Penggerak Perdamaian (2024), film ini menampilkan cerita perempuan yang bekerja lintas iman, identitas, dan trauma. Sebagai penanda akhir proses produksi, JISRA Indonesia menggelar kegiatan Soft Launching dan Diskusi Film pada 19 November 2025 di Outlier Cafe & Studio Ciputat sebagai ruang refleksi bersama sebelum film ini menjangkau publik yang lebih luas.

Irma Riyani, Project Officer JISRA – Fatayat NU Jawa Barat, menyampaikan bahwa film dokumenter “Namaku Perempuan” merekam kiprah nyata perempuan dalam menyemai perdamaian dan merawat kerukunan di berbagai wilayah Indonesia. “Perempuan selalu punya cara, komitmen, dan konsistensi dalam menyebarkan nilai-nilai perdamaian, bahkan di tengah situasi sosial yang tidak mudah,” ujarnya.

Ia berharap film ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi publik sekaligus memperluas pemahaman tentang peran perempuan sebagai penggerak perdamaian. “Judul Namaku Perempuan merepresentasikan perjuangan perempuan yang terus hadir dan bekerja merawat kerukunan di komunitasnya masing-masing,” tambah Irma.

Mutiara Pasaribu, Country Coordinator JISRA Indonesia, menilai proses penulisan dan pendokumentasian pengalaman perempuan dalam film ini sebagai ruang penting untuk pembelajaran dan pemulihan. “Membagikan pengalaman konflik, menuliskannya dengan jujur, dan mengizinkannya didokumentasikan adalah proses panjang yang tidak mudah, tetapi sangat bermakna,” katanya.

Menurut Mutiara, kerja kolaboratif para mitra JISRA Indonesia dalam film “Namaku Perempuan” juga menunjukkan kekuatan jejaring yang telah terbangun. “Meski program JISRA secara resmi telah berakhir, semangat kebersamaan dan kerja-kerja perdamaian ini perlu terus dilanjutkan agar dampaknya tetap hidup di masa mendatang,” tutupnya.

Pada kegiatan ini juga digelar talkshow yang menghadirkan Yuniyanti Chuzaifah, Wakil Ketua Komnas Perempuan periode 2015–2019, dan Elik Ragil, Direktur Islami.co. Diskusi dipandu oleh Dedik Priyanto, Editor dan Jurnalis Islami.co.

Keterangan: Diskusi film dokumenter “Namaku Perempuan” JISRA Indonesia pada 19 November 2025 di kantor Islami.co.

Yuniyanti Chuzaifah menekankan bahwa konflik berbasis agama sering berdampak paling berat pada perempuan dan kelompok rentan. “Banyak perempuan kehilangan ruang aman, hak bekerja, bahkan hak menentukan hidupnya sendiri. Dampak konflik juga menyentuh anak-anak, penyandang disabilitas, dan kelompok yang selama ini jarang terdengar suaranya,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa konflik keagamaan tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan sejarah, politik, dan identitas. “Masyarakat sering fokus pada perbedaan, bukan pada nilai kemanusiaan yang sama. Karena itu, upaya membangun perdamaian perlu dilakukan dengan cara yang lebih inklusif, saling memahami, dan menghormati pengalaman hidup setiap kelompok,” tambahnya.

Yuniyanti Chuzaifah menekankan bahwa proses pendokumentasian konflik harus dilakukan secara hati-hati dan beretika, dengan mengutamakan perlindungan saksi dan korban. Menurutnya, cerita dapat disampaikan tanpa menampilkan identitas, melalui suara, ilustrasi, atau simbol, serta dengan penggunaan bahasa yang tidak seksis dan sensitif terhadap konteks sosial. Ia juga mengingatkan pentingnya perspektif gender dan inklusivitas, keterlibatan perempuan dalam proses produksi, serta dukungan pascapendokumentasian agar pengalaman traumatis tidak menimbulkan luka baru.

Elik Ragil, Direktur Islami.co, menyampaikan bahwa bagi Islami.co, kekuatan utama ada pada produk yang bisa menjangkau publik luas dan memberi dampak. “Pengalaman kami menunjukkan bahwa video dengan biaya relatif murah bisa menjangkau jutaan penonton dan disebarluaskan lintas platform. Karena itu, kami selalu mendorong agar karya-karya ini bisa direplikasi dan dimanfaatkan seluas mungkin oleh masyarakat,” ujarnya.

Elik menjelaskan bahwa proses penyuntingan film dilakukan dengan hati-hati, terutama dalam menyederhanakan cerita-cerita yang memuat pengalaman berat. Menurutnya, film ini merupakan keberhasilan bersama seluruh mitra JISRA Indonesia. “Kami berharap film ini bisa menjadi ruang refleksi bersama,” ujarnya.

Menurutnya, perbedaan pandangan yang muncul justru memperkaya proses dan menghasilkan banyak masukan berharga. “Pembelajaran ini tidak boleh berhenti di sini,” ujarnya.

Keterangan: Usman Mansur, Regional Manager Eco Bhinneka Maluku Utara, soft launching dan diskusi film dokumenter “Namaku Perempuan” JISRA Indonesia pada 19 November 2025 di kantor Islami.co.

Usman Mansur, Regional Manager Eco Bhinneka Muhammadiyah Maluku Utara, menjelaskan bahwa salah satu kisah yang diangkat oleh Eco Bhinneka Muhammadiyah adalah Antoneta Batuwael, perempuan yang pernah mengajar sebagai Guru Agama Kristen di salah satu sekolah Muhammadiyah di Ternate.

“Proses pengambilan video kami lakukan dalam satu hari, lalu sekitar tiga hari untuk penyuntingan dan pengunggahan,” ujar Usman. Ia menambahkan, dukungan sekretariat Eco Bhinneka Muhammadiyah serta pendampingan dari tim Islami.co menjadi kunci kelancaran proses produksi. “Tantangan kami lebih pada penyesuaian waktu antara tim produksi, videografer, dan narasumber,” tambahnya.

Kegiatan Soft Launching dan Diskusi Film melibatkan sekitar 40 peserta yang terdiri dari perwakilan lembaga mitra JISRA Indonesia, jurnalis, pegiat perdamaian, komunitas, serta mitra strategis.

Keterangan: Tim Eco Bhinneka Muhammadiyah berfoto bersama Narasumber dan Moderator pada acara soft launching dan diskusi film dokumenter “Namaku Perempuan” JISRA Indonesia pada 19 November 2025 di kantor Islami.co.