Kurban Asik Tanpa Plastik ala Eco Bhinneka Banyuwangi

Ket. Foto Panitia Kurban Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi

Dalam semangat Idul Adha 1446 H, Duta Green Nasyiah yang juga tergabung dalam Anak Muda Eco Bhinneka Blambangan (Among) bersama Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah Siliragung menggelar aksi penyembelihan hewan kurban dengan mengusung tema “Kurban Ibadah Tanpa Nyampah,” Sabtu(7/6).

Kegiatan ini menyembelih dua ekor kambing dan mendistribusikan dagingnya ke 50 kepala keluarga (KK) penerima manfaat dengan cara unik sekaligus ramah lingkungan: menggunakan daun jati dan wadah plastik reuse sebagai pengganti kantong plastik.

Zahrotul Janah, yang terlibat langsung dalam aksi ini, menjelaskan bahwa pemilihan daun jati bukan hanya sekadar mengganti plastik. Namun juga memiliki manfaat tambahan.

“Daun jati tidak hanya lebih ramah lingkungan, tapi juga secara ilmiah membantu menjaga kualitas daging. Senyawa aktif dalam daun jati seperti flavonoid, alkaloid, dan tanin berperan dalam menghambat pertumbuhan bakteri, membuat daging lebih awet dan bahkan bisa mengurangi bau amis,” terang Zahrotul.

Ket. Foto panitia kurban saat membungkus daging dengan daun jati

Aksi ini merupakan bagian dari gerakan edukasi dan kampanye gaya hidup minim sampah yang selama ini digaungkan oleh kader-kader muda Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Dalam konteks hari raya kurban, persoalan sampah plastik menjadi sorotan penting.

Data tahun lalu menunjukkan bahwa perayaan Iduladha di Indonesia menyumbang hingga 608 ton sampah plastik hanya dari aktivitas pembungkusan daging kurban. Angka ini menjadi tamparan keras dan evaluasi mendalam bagi umat Islam dalam mengintegrasikan nilai ibadah dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Kamiasih (56), salah satu warga penerima daging kurban mengaku senang dan terkesan dengan pendistribusian daging ini. “Baru kali ini saya menerima daging kurban dibungkus dengan daun dan ini sebenarnya seperti masa kecil saya dulu. Lebih alami dan tidak menambah sampah kresek,” ujarnya.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pelaksanaan ibadah kurban bisa tetap khidmat sekaligus menjadi ruang praktik nyata gaya hidup berkelanjutan. Eco Bhinneka menunjukkan bahwa perubahan dimulai dari langkah-langkah sederhana namun bermakna.

Melalui aksi ini, Eco Bhinneka ingin menyuarakan bahwa perayaan Idul Adha tidak hanya tentang pemenuhan ritual keagamaan, tetapi juga momentum edukasi ekologis. Sudah saatnya umat Islam menjadi pelopor gaya hidup yang rahmatan lil ‘alamiin, tidak hanya bagi sesama manusia, tetapi juga bagi alam semesta. Diharapkan ke depan, kegiatan seperti ini bisa menjadi inspirasi dan gerakan masif di berbagai daerah. (Winda)