Cegah Radikalisme Lewat Empati dan Ekologi: Eco Bhinneka Muhammadiyah & Empatiku Siap Kolaborasi untuk Komunitas Tangguh

Keterangan: Puput dari Yayasan Empatiku sedang memperkenalkan Gerakan Aku Tangguh (GAT), yakni program yang membangun ketangguhan dari bawah bersama perempuan, remaja, dan komunitas lokal, pada 15 Mei 2025 di Kantor PP Muhammadiyah.

Yayasan Empatiku dan Eco Bhinneka Muhammadiyah tengah menjajaki kerja sama untuk memperkuat daya tangkal masyarakat terhadap ekstremisme berbasis kekerasan melalui pendekatan yang mengedepankan keberagaman, inklusi sosial, dan ekologi. Pertemuan yang digelar di Kantor PP Muhammadiyah – Jakarta Pusat pada 15 Mei 2025 ini mempertemukan dua inisiatif besar yang telah bergerak di bidang perdamaian dan pemberdayaan masyarakat secara akar rumput.

“Selama ini masyarakat hanya menjadi objek narasi radikal yang menyebar secara digital dan sosial. Melalui Gerakan Aku Tangguh (GAT), kami ingin membangun ketangguhan itu dari bawah, bersama perempuan, remaja, dan komunitas lokal yang mampu menjadi garda depan dalam menangkal ekstremisme,” ujar Rizki Putri Ayudini (Puput) dari Yayasan Empatiku.

“Di EMPATIKU, kami bekerja untuk memperkuat ketahanan masyarakat melalui tiga pilar utama: deteksi dan penanganan dini ekstremisme kekerasan, reintegrasi sosial berbasis komunitas, serta advokasi kebijakan berbasis data. Salah satu pendekatan utama kami adalah membentuk Tim Tangguh—unit komunitas yang bisa mengenali tanda-tanda awal, merespons kasus dengan pendekatan empatik, dan mendampingi proses reintegrasi bagi individu maupun keluarga yang terdampak,” ujar Puput.

 “Kami juga mendorong keterlibatan aktif perempuan dan remaja, karena mereka adalah kelompok yang paling rentan sekaligus paling strategis. Melalui pelatihan literasi digital dan kampanye narasi damai, kami ingin melawan penyebaran propaganda ekstremisme, khususnya yang menyasar ruang-ruang media sosial,” imbuhnya.

Hening Parlan, Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, menyatakan bahwa ekologi dan keberagaman adalah pendekatan damai yang sangat relevan dalam konteks Indonesia. Eco Bhinneka, unit di bawah Muhammadiyah yang fokus pada isu keberagaman, kerukunan, dan ekologi. “Peacebuilding sulit dilakukan lewat dialog formal, tapi lewat kegiatan lingkungan, lebih mudah dan universal. Pendekatan ini sangat efektif,” ungkapnya.

Ia menekankan filosofi Muhammadiyah sebagai “Rumah Ummat”, dan memiliki konsep inklusif yang memprioritaskan kelompok rentan seperti fakir miskin dan anak yatim. “Tantangan kemiskinan saat ini tidak semata bersifat ekonomi, tetapi juga keterbatasan akses terhadap pengetahuan yang memperparah ketimpangan,” lanjutnya.

Menurut Hening, kolaborasi dengan Empatiku ini akan memperkuat program SMILE dan ESA yang sedang berjalan di Eco Bhinneka Muhammadiyah, melalui konten literasi digital, empati, serta perdamaian yang dibawa oleh Empatiku.

Keterangan: Foto bersama tim Yayasan Empatiku dan Eco Bhinneka Muhammadiyah dengan gaya telapak tangan terbuka ke depan sebagai tanda stop kekerasan.

Eco Bhinneka Muhammadiyah sendiri telah menjalankan berbagai program inovatif sejak 2021, termasuk Program JISRA untuk memperkuat inisiasi aksi keagamaan yang strategis, 1000 Cahaya sebagai inisiatif energi terbarukan berbasis sekolah, pesantren, masjid, dan ranting, SMILE yang mengangkat peran perempuan dalam isu keadilan iklim, hingga Spiritual Inspired Changemakers Initiative (SICI) yang membangun jaringan pemuka lintas agama untuk kepemimpinan damai. Setiap program ini dirancang dengan nilai inklusivitas, spiritualitas, dan ketahanan masyarakat sebagai fondasinya.

Dalam kerja sama ini, kedua pihak merencanakan program tahunan. Kegiatan tersebut bisa mencakup pelatihan Training of Trainers (ToT) bagi komunitas ‘Aisyiyah maupun di berbagai lokasi program Eco Bhinneka Muhammadiyah dilaksanakan, penguatan kapasitas kelompok mantan pelaku di Garut, serta membangun gerakan toleransi lintas iman melalui kegiatan berbasis komunitas. Fokus pada kelompok rentan seperti remaja dan perempuan akan menjadi benang merah seluruh kegiatan.